Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Joe Biden dan Xi Jinping Sepakat Hindari Konflik, Harga Minyak Melonjak

Brent telah reli 41 persen sejauh tahun ini karena pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa pemulihan permintaan dari pandemi.
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak./Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak naik tajam pada akhir perdagangan Jumat (10/9/2021) waktu New York, Amerika Serikat (AS) didukung oleh tanda-tanda semakin ketatnya pasokan di Amerika Serikat sebagai akibat dari Badai Ida.

Mengutip Antara, Sabtu (11/9/2021), penguatan harga minyak turut didukung harapan perdagangan AS-China akan memberi dorongan pada aset-aset berisiko setelah pembicaraan Presiden AS Joe Biden dengan Pemimpin China Xi Jinping.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November melonjak US$1,47 atau 2,3 persen, menjadi menetap di US$72,92, setelah mencapai tertinggi US$73,15 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober bertambah 1,58 persen atau 2,3 persen, menjadi US$69,72 per barel.

Untuk minggu ini, harga minyak mentah AS naik 0,6 persen, sementara minyak mentah Brent naik 0,4 persen. Brent telah reli 41 persen sejauh tahun ini karena pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa pemulihan permintaan dari pandemi.

Sekitar tiga perempat dari produksi minyak lepas pantai Teluk AS, atau sekitar 1,4 juta barel per hari, tetap terhenti sejak akhir Agustus. Jumlah itu kira-kira sama dengan yang dihasilkan anggota OPEC, Nigeria.

"Pasar kembali fokus pada situasi pasokan yang lebih ketat secara global, dan itu memberinya dorongan," kata Phil Flynn, analis senior di grup Price Futures di Chicago.

Dia menambahkan, sementara China melepaskan minyak dari cadangan minyak strategisnya, jumlahnya lebih besar daripada mengimbangi pengurangan produksi di Teluk Meksiko.

Pasar minyak dan ekuitas juga mendapat dorongan dari berita pembicaraan telepon antara Presiden AS Joe Biden dan mitranya dari China Xi Jinping. Pembicaraan itu meningkatkan harapan untuk hubungan yang lebih hangat dan lebih banyak perdagangan global, kata para analis.

"Panggilan telepon Biden-Xi memiliki efek yang sama pada pasar minyak seperti pada kelas aset lainnya," kata Jeffrey Halley, analis di broker OANDA.

Amerika Serikat menambahkan rig dalam minggu terakhir. Penyedia layanan energi Baker Hughes mengatakan tambahan rig menunjukkan produksi mungkin meningkat dalam beberapa minggu mendatang.

Pada Kamis (9/9/2021), kedua kontrak minyak mentah turun lebih dari 1,0 persen setelah China mengatakan akan melepaskan cadangan minyak mentahnya melalui lelang publik guna membantu meringankan biaya bahan baku yang tinggi bagi para penyuling.

Fokus minggu depan adalah revisi prospek permintaan minyak untuk 2022 dari OPEC dan Badan Energi Internasional. OPEC kemungkinan akan merevisi turun perkiraannya pada Senin (13/9/2021), menurut dua sumber OPEC+.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper