Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Handy Yunianto

Handy Yunianto

Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas
email Lihat artikel saya lainnya

Dealer Utama & Pasar SBSN

Saat ini, total SBSN yang beredar mencapai Rp1.095 triliun atau 19,1% terhadap total outstanding Surat Berharga Negara (SBN).
Bisnis.com - 10 September 2021  |  09:23 WIB
Gedung Kementerian Keuangan - kemenkeu.go.id
Gedung Kementerian Keuangan - kemenkeu.go.id

Terjadi perkembangan yang sangat menggembirakan di pasar Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Angka permintaan lelang SBSN terus meningkat, bahkan hampir memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu Rp69,6 triliun yang terjadi sebelum pandemi (Februari 2020).

Terjadi perkembangan yang sangat menggembirakan di pasar Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Angka permintaan lelang SBSN terus meningkat, bahkan hampir memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu Rp69,6 triliun yang terjadi sebelum pandemi (Februari 2020).

Saat ini, total SBSN yang beredar mencapai Rp1.095 triliun atau 19,1% terhadap total outstanding Surat Berharga Negara (SBN). Angka ini juga meningkat signifikan lebih dari 3,6 kali dibandingkan dengan posisi lima tahun lalu.

Sementara itu, di pasar sekunder rata-rata transaksi per hari tercatat Rp2,5 triliun atau meningkat 2,5 kali dibandingkan dengan posisi tiga tahun lalu. Dalam dua tahun terakhir rata-rata risk premium (selisih yield SBSN dengan Surat Utang Negara/SUN) juga mengecil, bahkan untuk tenor yang pendek sudah negatif.

Tambahan premium ini biasanya diminta oleh investor untuk mengkompensasi liquidity risk jika berinvestasi di SBSN dibandingkan dengan SUN.

Sebagai gambaran, perhitungan rata-rata yield SBSN yang dimenangkan pada saat lelang umumnya memberikan tambahan premi terhadap SUN sebesar 25 bps sejak 2016—2019 tetapi trennya turun signifikan menjadi hanya 6 bps pada 2020 dan 2021.

Apa yang membedakan pasar SBSN dua tahun terakhir? Jawabannya adalah terbentuknya dealer utama SBSN yang diputuskan sejak Desember 2019 melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 213 Tahun 2019.

Konsep dealer utama di dunia diperkenalkan di Amerika Serikat pada 1960 dengan mandat untuk mengembangkan pasar obligasi pemerintah, baik di pasar perdana dan sekunder. Konsep tersebut kemudian diterapkan oleh banyak negara seperti Brasil, Inggris, Singapura, Prancis, India, dan termasuk Indonesia untuk pasar SUN sejak Desember 2016.

Survei yang dilakukan oleh Marco Arnone dan George Iden dari IMF pada 2003 melaporkan bahwa 75% negara yang disurvei menggunakan dealer utama untuk menerbitkan utang negaranya.

Survei juga menunjukkan bahwa dealer utama dapat memperluas cakupan obligasi pemerintah di pasar perdana dan meningkatkan likuiditas di pasar sekunder. Sebesar 87% dari total responden juga merekomendasikan sistem dealer utama ini.

Selain untuk pengoptimalan lelang, pembentukan dealer utama juga bisa mengurangi market risk dan financing risk, karena adanya kewajiban bagi mereka untuk memenangkan persentase tertentu di setiap lelangnya.

Sentimen positif untuk likuiditas di pasar sekunder juga akan tercipta karena dealer utama akan menciptakan price discovery mechanism yang transparan melalui kuotasi harga dua arah untuk seri-seri benchmark yang dilaporkan setiap hari perdagangan. Meningkatnya persaingan ini juga akan berpotensi menurunkan cost of financing pemerintah.

Peran penting dealer utama di pasar SBSN juga harus terus diimbangi dengan peningkatan keragaman investornya. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJP2R), pada akhir Juli 2021 kepemilikan perbankan masih dominan, tercatat sebesar Rp344,4 triliun atau 44,3% dari total outstanding SBSN.

Hal yang cukup menarik, investor ritel meningkat pesat di pertengahan tahun ini. Portofolio nasabah ritel di SBSN tumbuh 17% dibandingkan dengan akhir tahun lalu. Kenaikan ini melebihi pertumbuhan kepemilikan institusi non perbankan yang masih tumbuh 9,5%.

Namun, porsi kepemilikan retail di sukuk relatif masih rendah yakni hanya 5,6. Sementara itu, partisipasi asing di SBSN juga masih sangat rendah, hanya 2,4% dari total outstanding SBSN. Kami melihat porsi ritel dan investor asing ini masih bisa ditingkatkan lagi partisipasinya di SBSN.

Adanya Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang terus berkomitmen meningkatkan porsi investasinya dalam bentuk SBSN juga semakin memperkuat basis investor.

Berdasarkan data komposisi investasi BPKH hingga akhir Juli 2021, investasinya yang paling besar saat ini berbentuk SBSN rupiah senilai Rp89,92 triliun atau 60,3% dari total dana kelolaanya sebesar Rp149 triliun.

Nilai investasi di SBSN ini naik signifikan dibandingkan lima tahun lalu yang hanya Rp35,78 triliun atau 39,5% dari total investasi. Perlu untuk terus diciptakan investor-investor insitusi baru seperti BPKH ini ke depannya.

Faktor lainnya yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan pendalaman pasar SBSN adalah membentuk yield curve yang kredibel guna mempermudah investor dalam melakukan pricing SBSN di berbagai tenor.

Yield curve yang kredibel juga akan bisa digunakan oleh para ekonom untuk melihat proyeksi perekonomian ke depan. Pemerintah perlu melakukan pilihan tenor seri benchmark SBSN yang berbeda dengan SUN, yang saat ini sudah ada benchmark untuk tenor 5, 10, 15, dan 20 tahun.

Hal ini akan mengurangi pricing head to head antar SUN dan SBSN dan turut serta mendukung pembuatan yield curve rupiah menjadi lebih smooth ke depannya. Alhasil, penerapan dealer utama SBSN terbukti memberikan faktor positif untuk perkembangan pasar SBSN.

Akan tetapi hal ini harus terus didukung dengan upaya pendalaman pasar, baik dari sisi investor, instrumen, atau infrastrukturnya. Bisa dipertimbangkan juga insentif seperti keringanan pajak untuk investor SBSN untuk meningkatkan penetrasi sukuk lebih dalam lagi.

Dengan basis penduduk muslim terbesar di dunia, semoga pasar sukuk perdana dan sekunder di Indonesia akan berkembang lebih pesat lagi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi sukuk opini sbsn
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top