Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Dibuka Hijau, BUKA, TLKM, hingga FREN Diborong Asing

IHSG bergerak naik 0,23 persen atau 13,93 poin ke level 6.104,86 di satu menit pertama perdagangan.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 02 September 2021  |  09:14 WIB
IHSG Dibuka Hijau, BUKA, TLKM, hingga FREN Diborong Asing
Karyawan memantau pergerakan harga saham di Kantor Mandiri Sekuritas, Jakarta, Rabu (15/7/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka ke zona hijau pada perdagangan hari kedua bulan September, Kamis (2/9/2021). Investor asing borong saham BUKA hingga TLKM.

Berdasarkan Bloomberg pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka di level 6.092,65. IHSG terus bergerak naik 0,23 persen atau 13,93 poin ke level 6.104,86 di satu menit pertama perdagangan.

Sebanyak 179 saham menghijau, 50 saham memerah, dan 208 saham tidak berubah harganya dari perdagangan kemarin. Kapitalisasi pasar pun menembus Rp7.373,28 triliun.

Adapun, investor asing mencatat net foreign sell atau aksi jual bersih sebesar Rp4,43 miliar dengan saham yang banyak dijual terutama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) yang sebesar Rp6,4 miliar membuat sahamnya turun 0,26 persen ke harga 3.880.

Selain itu, asing juga melego saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan net sell masing-masing Rp2,3 miliar dan Rp820,9 juta.

Di sisi lain, investor asing tercatat memborong saham PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) dengan net buy hingga Rp2,3 miliar dan membuat harga sahamnya melejit 1,69 persen ke level 905.

Selain itu, investor asing juga memborong saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan net buy sebesar Rp1,2 miliar dan membuat sahamnya naik 0,6 persen. Adapula, aksi borong terhadap saham PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) dengan net buy sebesar Rp1,3 miliar.

Adapun, saham yang melonjak paling tinggi yakni emiten yang baru saja mencatatkan sahamnya di bursa, PT Hasnur Internasional Shipping Tbk. (HAIS) yang naik 24,6 persen ke level 466. Di belakangnya ada PT Jasa Armada Indoensia Tbk. (IPCM) naik 10,2 persen.

Saham-saham yang memimpin pelemahan diantaranya PT Boston Furniture Industries Tbk. (SOFA), PT Djasa Ubersakti Tbk. (PTDU), dan PT Sentral Mitra Informatika Tbk. (LUCK) yang turun masing-masing 9,9 persen, 6,45 persen, dan 4,13 persen.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menjelaskan pelemahan itu disebabkan oleh investor mencermati data PMI Manufaktur Indonesia yang masih berada di bawah level ekspansi dan data tingkat inflasi Agustus yang dibawah ekspektasi.

Indeks Kinerja PMI Manufaktur naik menjadi 43,7 dan inflasi bulanan turun menjadi 0,03 persen dari 0,08 persen dan inflasi tahunan naik tipis menjadi 1,59 persen dari 1,52 persen sedangkan inflasi inti menurun menjadi 1,31 persen dari 1,4 persen.

“Data tersebut memberikan indikasi dampak pembatasan darurat akibat peningkatan kasus Covid-19 dan belum adanya pemulihan daya beli masyarakat di bulan Agustus 2021,” tulis Lanjar dalam riset harian, Kamis (2/9/2021).

Secara teknikal, Lanjar menjelaskan IHSG kembali bergerak uji support moving average 20 dan 5 hari dengan momentum yang mulai memasuki area overbought dari Indikator RSI dan Stochastic.

Indikator MACD bergerak mendatar dengan tingkat fluktuatif cukup tinggi pada pergerakan histogram. Konfirmasi selanjutnya adalah level moving Average 50 hari sebagai support pergerakan tren positif jangka menengah di kisaran 6071 dan Moving Average 200 sebagai support kuat di kisaran 6032 yang kemungkinan akan di uji dan menjadi penopang pergerakan selanjutnya.

“Sehingga kami perkirakan IHSG berpotensi kembali bergerak tertekan dengan support resistance 6.032-6.129,” tulis Lanjar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI telkom bukalapak
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top