Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mau Beli Reksa Dana? Kenali Dulu Sharpe Ratio, Drawdown & Expense Ratio

Sejumlah indikator kerap dijadikan acuan para investor dalam mengevaluasi kinerja suatu produk reksa dana agar dapat memilih produk yang unggul dan cuan tinggi.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 15 Juli 2021  |  17:41 WIB
Mau Beli Reksa Dana? Kenali Dulu Sharpe Ratio, Drawdown & Expense Ratio
Karyawan mengamati pergerakan saham di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (19/11/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Produk reksa dana yang beredar di pasar semakin banyak seiring minat investasi terhadap instrumen reksa dana tumbuh pesat dari tahun ke tahun. Lantas, bagaimana cara menentukan produk mana yang unggul?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, saat ini setidaknya ada 2.419 produk reksa dana dari 98 manajer investasi yang terdaftar secara resmi dan dijual melalui 71 agen penjual reksa dana (APERD) di Indonesia.

Sejumlah indikator kerap dijadikan acuan para investor dalam mengevaluasi kinerja suatu produk reksa dana agar dapat memilih produk yang benar-benar unggul dan memiliki potensi cuan lebih tinggi.

Chief Research and Business Development Officer PT Bareksa Portal Investasi (Bareksa) Ni Putu Kurniasari mengatakan, sebelum melihat return atau imbal hasil dan indikator statistic kinerja reksa dana, pilih dulu manajer investasi yang terpercaya.

Menurutnya, penting untuk mengecek apakah manajer investasi tersebut masuk dalam jajaran 15-20 manajer investasi dengan dana kelolaan terbesar. Kemudian cermati rekam jejak pemberitaan mengenai MI tersebut.

“Jika sudah di-filter manajer investasinya, baru kita pilih [produk] dari ukuran statistik,” ujar Putu kepada Bisnis, Kamis (15/7/2021).

Putu menuturkan, indikator pertama yang dapat dicermati investor adalah sharpe ratio. Rasio mengukur imbal hasil reksadana dibandingkan dengan fluktuasi dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) suatu produk reksa dana.

“Jika sharpe ratio besar maka reksa dana itu bagus. Jadi melihat reksa dana jangan hanya imbal hasil yang besar saja karena bisa saja imbal hasil besar, tapi risiko fluktuasinya juga tinggi. Alhasil sharpe-nya rendah, artinya produk tersebut kurang baik,” jelas Putu.

Kemudian, ada drawdown yakni indikator untuk melihat berapa portensi kerugian maksimal dari suatu produk reksa dana. Indikator ini lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi produk reksa dana berbasis saham karena cenderung lebih fluktuatif dibanding kelas aset lain.

Sementara expense ratio adalah indikator total biaya yang digunakan manajer investor dalam mengoperasikan produk reksa dana. Semakin kecil expense ratio atau beban biaya artinya semakin tinggi profesionalisme manajer investasi dalam mengelola produk.

Meskipun demikian, Putu menyebut ukuran evaluasi yang lebih baik dalam memilih produk reksa dana adalah sharpe ratio, sedangkan drawdown dan expense ratio hanya merupakan indikator tambahan.

“Misalnya ada dua reksa dana saham punya nilai sharpe yang sama, tapi drawdown produk A lebih tinggi dari produk B, artinya A itu lebih agresif. Jadi jika uang kita akan digunakan dalam durasi waktu pendek sebaiknya hindari A. Atau untuk trader lebih cocok yang A, tapi untuk yang pasif lebih baik pilih B,” jelasnya.

Di sisi lain, Putu juga mengimbau agar investor berhati-hati jika ada produk yang menawarkan tingkat imbal hasil tetap atau imbal hasil yang sangat tinggi jauh di atas rata-rata kinerja produk reksa dana secara industri. Investor perlu melakukan pengecekan ulang.

“Kembali lagi ke awal ya, sebelum lihat return dan statistik, perlu tau dulu MI-nya. Cek dana kelolaan, cek pemberitaannya, cek sudah berdiri berapa lama. Untuk MI baru perlu ekstra cek, bukan berarti tidak bagus tapi harus lebih ekstra saja,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi investasi reksa dana Bareksa
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top