Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dear Investor, 4 Sentimen Ini Bayangi IHSG pada Semester II/2021

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakn IHSG pada semester II/2021 setelah cenderung mendatar.
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada semester II/202 akan dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari penanganan pandemi Covid-19 hingga IPO perusahaan unikorn.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, di penutupan perdagangan terakhir Juni 2021, indeks komposit parkir di level 5.985,07 alias hanya mampu mencetak penguatan 0,11 persen sepanjang paruh pertama tahun ini.

Direktur MNC Asset Manajemen Edwin Sebayang mengatakan perkembangan terkait pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang membuat IHSG cenderung mendatar.

Dia menuturkan, di awal tahun ekspektasi investor terbilang tinggi dengan penanganan Covid-19 di dalam negeri yang mulai menunjukkan penurunan jumlah kasus aktif. Di sisi lain, investor juga optimistis dengan dimulainya program vaksinasi.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu pandemi di Indonesia kembali mengganas dan jumlah kasus aktif Covid-19 pun melonjak lagi, sementara program vaksin cenderung berjalan lambat dan tak sesuai harapan.

“Oleh karenanya investor scale down mereka punya target IHSG dan saham-saham karena mereka tidak seoptimis awal tahun. Apalagi cerminan GDP kita di Q2 ini juga nggak setinggi ekspektasi sepertinya,” tutur Edwin kepada Bisnis, Rabu (30/6/2021)

Dia mengatakan, pergerakan IHSG di paruh kedua tahun ini akan dipengaruhi setidaknya oleh 4 hal utama.

Pertama, penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Edwin menyebut kebangkitan IHSG akan bergantung pada seberapa cepat tingkat keterjangkitan Covid-19 dapat ditekan dan seberapa cepat vaksinasi dapat menjangkau mayoritas masyarakat.

“Semakin cepat vaksin bisa ditingkatkan, tentu akan semakin baik. Begitu pula jika angka kasus aktif ini bisa ditekan,” imbuh Edwin.

Kedua, implementasi skema baru pembobotan indeks berdasarkan free float yang akan dilakukan secara bertahap sepanjang semester II/2021.

Edwin menuturkan, dengan adanya skema pembobotan baru indeks tersebut, manajer investasi pasti akan ikut melakukan penyesuian dan melepas sejumlah saham agar dapat sesuai dengan aturan baru BEI sehingga menyebabkan tekanan jual jangka pendek.

Ketiga, kehadiran perusahaan unicorn seperti Bukaapk dan GoTo Group di lantai bursa. Sinyal aksi initial public offering (IPO) dua perusahaan teknologi raksasa di Indonesia yang kian kuat dinilai dapat memberikan angina segar ke pasar saham.

“Bukalapak dan GoTo itu valuasinya akan lumayan besar, berarti sumbangan atau kontribusi saham-saham tekno itu akan semakin besar ke indeks, sementara sektor lain tergerus. Sektor tekno bisa topang hingga 18 persen dari IHSG,” ujar Edwin.

Keempat, atau terakhir, adalah terjadinya taper tantrum yang diperkirakan terjadi di akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Edwin mengatakan, jika berkaca pada historis taper trantrum, sentimen dari pengurangan stimulus The Fed tersebut berpotensi memicu capital outflow dari Indonesia, sehingga IHSG kemungkinan akan ikut tertekan cukup dalam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper