Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Erick Thohir Bentuk Tim Khusus Selamatkan Garuda Indonesia (GIAA)

Pengeluaran GIAA per bulan mencapai US$150 juta, sementara penghasilannya per bulan hanya US$50 juta di masa pandemi Covid-19.
Menteri BUMN Erick Thohir mendukung penuh keputusan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) untuk menghentikan kontrak 12 pesawat Bombardier CRJ 1000. Pasalnya, hal tersebut sebagai bagian dari upaya efisiensi di tubuh maskapai nasional tersebut./ Istimewa
Menteri BUMN Erick Thohir mendukung penuh keputusan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) untuk menghentikan kontrak 12 pesawat Bombardier CRJ 1000. Pasalnya, hal tersebut sebagai bagian dari upaya efisiensi di tubuh maskapai nasional tersebut./ Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian BUMN membentuk tim khusus restrukturisasi emiten maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA). Sementara Garuda fokus memangkas biaya operasional.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Mitra Piranti dalam suratnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) per Rabu (9/6/2021) memberikan penjelasan mengenai kondisi terkini emiten bersandi GIAA tersebut.

"Dukungan pemerintah terhadap proses restrukturisasi perseroan ditandai dengan telah dibentuknya PMO Restrukturisasi Garuda Indonesia oleh Kementerian BUMN," jelasnya dalam surat tersebut, Rabu (9/6/2021).

Pembentukan project management officer (PMO) tersebut disebut sebagai bagian dari upaya Kementerian BUMN untuk menghindari opsi mempailitkan GIAA.  

Lebih lanjut, perseroan juga dalam proses melakukan kajian menyeluruh dari berbagai aspek, termasuk namun tidak terbatas pada aspek bisnis, operasional, strategis dan keuangan.

Hal ini guna memastikan prospek bisnis perseroan yang mampu bertahan dalam era kenormalan baru, terus bertumbuh (sustain growth) dan menguntungkan serta dapat memberikan nilai terbaik bagi pemegang saham.

Di sisi lain, guna mengurangi defisit operasional Rp1 triliun setiap bulannya, perseroan terus berupaya untuk melakukan peningkatan kinerja operasional dengan dukungan program vaksinasi yang telah dilaksanakan oleh pemerintah.

Berdasarkan keterangan Kementerian BUMN, pengeluaran GIAA per bulan mencapai US$150 juta, sementara penghasilannya per bulan hanya US$50 juta di masa pandemi Covid-19 ini. Dengan demikian, terjadi defisit US$ 100 juta untuk menutupi biaya operasional.

Selain itu, upaya pengurangan biaya operasional dilakan melalui program-program untuk meningkatkan pendapatan dan program efisensi yang dijalankan oleh perseroan.

Perseroan juga akan melakukan manajemen arus kas yang optimal antara pemasukan yang diterima Perseroan dengan kewajiban yang harus dibayarkan setiap bulannya.

"Hal ini tentu juga melibatkan proses negosiasi dan diskusi dengan pihak terkait termasuk vendor, lessor dan kreditur," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper