Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investor Cenderung Hati-hati, Wall Street Bergerak Variatif

Volatilitas telah kembali ke pasar saham pekan ini karena investor menunggu keputusan suku bunga The Fed.
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS./ Michael Nagle - Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS./ Michael Nagle - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Saham-saham di Wall Street terpantau bergerak volatil sehingga membuat indeks utama dibuka bervariasi pada perdagangan Selasa (08/06/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, pukul 20.30 WIB, indeks Dow Jones dibuka melemah 0,07 persen ke level 34.605,41, indeks S&P 500 menguat 0,15 persen ke level 4.232,75, dan indeks Nasdaq menguat 0,50 persen ke level 13.950,99.

Saham AS telah diperdagangkan dalam kisaran yang relatif ketat selama beberapa pekan terakhir. Hal ini lantaran investor mencoba untuk menyeimbangkan pemulihan ekonomi dan sikap dovish bank sental AS The Fed terhadap kekhawatiran inflasi, valuasi tinggi, dan disparitas dalam peluncuran vaksin Covid secara global.

Volatilitas telah kembali ke pasar pekan ini karena investor menunggu keputusan suku bunga The Fed pada Rabu pekan depan untuk petunjuk tentang arah kebijakan moneter.

“Investor melihat secara menyeluruh dan semuanya lebih mahal,” kata Brian Walsh, Jr., penasihat keuangan senior di Walsh & Nicholson Financial Group.

Menurut dia, The Fed terus mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga terlepas dari data inflasi AS. Kini, pelaku pasar pun dinilai bisa menerima pernyataan The Fed tersebut.

Adapun sejumlah indeks bursa global juga melayang di sekitar rekor tertinggi, dan imbal hasil US Treasury telah berkurang selama tiga pekan berturut-turut. Hal tersebut mencerminkan jaminan The Fed untuk menenangkan kekhawatiran pengetatan suku bunga.

Rentang perdagangan yang ketat terlihat pada bulan ini mencerminkan suasana hati-hati di pasar menjelang angka inflasi," kata Fiona Cincotta, analis pasar keuangan senior di City Index.

Menurut Fiona, The Fed terlihat meyakinkan pelaku pasar bahwa lonjakan inflasi AS bersifat sementara, dan pembuat kebijakan perlu beramai-ramai untuk menenangkan pasar. Sebab, menunda tindakan atau bahkan tidak bertindak sama sekali dapat menyebabkan gangguan ekonomi yang ditakuti pelaku pasar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper