Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kurs Jisdor Menguat ke Rp14.198, Rupiah Bertenaga

Rupiah ditutup menguat 87,5 poin atau 0,61 persen ke level Rp14.197,5 per dolar AS.
Karyawan menghitung mata uang rupiah di salah satu cabang MNC Bank, Jakarta. Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menghitung mata uang rupiah di salah satu cabang MNC Bank, Jakarta. Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kurs rupiah terpantau menguat berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di hari ini, Senin (10/5/2021).

Data yang diterbitkan Bank Indonesia hari ini menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.198 per dolar AS, melonjak 91 poin atau 0,64 persen dari posisi Jumat (7/5/2021) Rp14.289 per dolar AS.

Berdasarkan data bloomberg pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup menguat 87,5 poin atau 0,61 persen ke level Rp14.197,5 per dolar AS. Sementara itu indeks dolar AS terpantau menguat 0,37 persen menuju 91,2790 pada pukul 15.26 WIB.

Sebelumnya Ibrahim Assuaibi, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka menyampaikan penguatan rupiah didorong oleh dolar AS yang merosot ke level terendah satu minggu. Patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun turun mendekati level terendah dua minggu didukung data ekonomi positif dari AS. 

Di AS, jumlah klaim pengangguran awal turun menjadi 498.000 orang, terendah sejak pertengahan Maret 2020 ketika Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi. 

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa pada April 2021 mencapai US$138,8 miliar, naik dari bulan sebelumnya US$137,1 miliar. Peningkatan posisi cadangan devisa pada April 2021 terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. 

BI memastikan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,0 bulan impor atau 9,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Selain itu, posisi cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. 

"Cadangan devisa yang kuat mencerminkan bahwa BI punya 'amunisi' yang kuat untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Saat nilai tukar stabil, investor akan lebih merasa aman dan nyaman berinvestasi di Indonesia," papar Ibrahim

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper