Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dear Investor, Begini Prospek Reksa Dana Campuran Menurut Panin AM

Secara umum, reksa dana campuran dipengaruhi oleh harga obligasi dan saham yang menjadi aset dasarnya.
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan kinerja reksa dana campuran amat bergantung pada pemulihan ekonomi sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data Infovesta Utama, pada akhir April 2021 mayoritas reksa dana membukukan imbal hasil yang negatif. Reksa dana campuran memimpin dengan imbal hasil -0,14 persen secara mingguan.

Hasil tersebut juga berimbas pada performa reksa dana campuran secara year to date (ytd). Tercatat, reksa dana campuran masih terkoreksi 0,69 persen sepanjang tahun ini, sedikit dibawah reksa dana pendapatan tetap yang turun 0,9 persen.

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menyebutkan, sepanjang April lalu, reksa dana campuran garapannya mencatatkan return rata-rata 0,82 persen. Hal ini didukung oleh kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat tipis 0,17 persen pada bulan lalu.

“Selain itu, indeks obligasi pemerintah juga terpantau naik 1,26 persen pada bulan lalu. Jadi, penguatan reksa dana campuran lebih banyak dikontribusikan dari harga obligasi yang bagus,” katanya saat dihubungi pada Kamis (6/5/2021).

Rudiyanto menjelaskan, prospek reksa dana campuran ke depannya secara umum akan mengikuti harga obligasi dan saham yang menjadi aset dasarnya. Salah satu sentimen yang akan mempengaruhi kinerja instrumen ini adalah inflasi di Indonesia dan AS yang dapat memicu pelemahan atau penguatan harga obligasi.

Selanjutnya, prospek pemulihan ekonomi tahun ini juga akan berperan dalam kinerja reksa dana campuran. Ia mengatakan, pemulihan ekonomi yang lebih baik akan berimbas pada hasil keuangan emiten yang lebih baik dan mengerek nilai sahamnya.

“Perkembangan vaksinasi serta penanganan Covid-19 juga masih menjadi perhatian karena akan mempengaruhi dua sentimen tadi,” katanya.

Sementara itu, dalam hal penawaran reksa dana campuran, Panin Asset Management menyarakan kepada investornya untuk diversifikasi sesuai dengan profilnya. Meski demikian, keputusan akhirnya akan tetap kembali ke masing-masing investor.

Rudiyanto menambahkan, dalam meracik reksa dana campuran, pihaknya memanfaatkan momentum penurunan yang terjadi untuk membeli saham yang valuasinya murah dan obligasi dengan harga rendah.

“Kami juga mengatur porsi cash, saham, dan obligasi sesuai kebijakan investasinya,” kata Rudiyanto.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang periode 6 tahun terakhir atau dari 2015 hingga 2020, dana kelolaan reksa dana campuran hanya tumbuh 29,02 persen, dari Rp20,78 triliun di akhir 2015 menjadi Rp26,81 triliun di akhir 2020.

Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama, dana kelolaan industri reksa dana melonjak lebih dari dua kali lipat, tepatnya tumbuh 110,33 persen, dari posisi Rp272,78 triliun di akhir 2015 menjadi Rp573,74 di akhir 2020.

Bahkan, di awal tahun ini dana kelolaan reksa dana campuran terpantau susut 4,07 persen, dari posisi Rp26,81 triliun per akhir tahun lalu menjadi Rp25,72 triliun di akhir kuartal I/2021.

Realisasi tersebut turun lebih dalam dari dana kelolaan industri yang susut 1,37 persen dalam periode yang sama, dari Rp573,74 triliun menjadi Rp568,87 triliun.

Terkait hal tersebut, Rudiyanto mengatakan pertumbuhan reksa dana campuran secara industri yang tak terlalu besar kemungkinan disebabkan oleh investor yang cenderung memilih reksa dana yang sesuai profil risiko mereka.

“Mungkin ada investor yang agresif sekalian ke reksa dana saham, yang konservatif ke pasar uang. Ada yang moderat mungkin memilih sendiri porsinya, dibandingkan reksa dana moderat seperti campuran,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper