Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kuartal I/2021: Surya Esa (ESSA) Catat Kenaikan Pendapatan 8,86 Persen

Kontributor terbesar terhadap pendapatan ESSA adalah lini pendapatan Amonia yang naik 11,8 persen di kuartal I/2021.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 April 2021  |  08:51 WIB
Emiten produsen amonia dan LPG, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA), mengumumkan identitas logo barunya.
Emiten produsen amonia dan LPG, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA), mengumumkan identitas logo barunya.

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten di sektor energi, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,86 persen seiring dengan kontribusi signifikan dari segmen bisnis amonia.

Berdasarkan laporan keuangan interim yang tidak diaudit per 31 Maret 2021, ESSA berhasil membukukan pendapatan sebesar US$68,5 juta pada kuartal I/2021. Jumlah tersebut naik 8,86 persen dibandingkan pada kuartal I/2020 sebesar US$ 62,9 juta.

Pendapatan Amonia tercatat naik 11,8 persen di kuartal I/2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini turut berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan ESSA yang sebagian besar kontribusi penjualannya berasal dari segmen Amonia sebesar 86 persen.

Sektor selanjutnya yang menyumbangkan penerimaan terbesar untuk ESSA adalah LPG sebesar 14 persen.

Dari sisi operasional, ESSA berhasil mengurangi beban penjualan sebesar 18 persen dan beban administrasi dan umum sebanyak 17 persen. Hal tersebut memungkinkan ESSA menghasilkan marjin operasi yang lebih baik sehingga mendorong kenaikan laba bersih menjadi US$ 9,5 juta pada berbanding sebesar US$ 0,3 juta pada kuartal I/2020.

Presiden Direktur ESSA Vinod Laroya menyatakan, peningkatan pendapatan serta laba bersih ESSA terjadi seiring dengan pemulihan harga Amonia secara tajam sejak Januari 2021. Kenaikan harga Amonia didorong oleh hambatan pasokan serta dimulainya fase awal pemulihan permintaan.

“Ke depan, ESSA akan terus meningkatkan kinerjanya seiring dengan pemulihan harga dan permintaan di pasar global,” katanya dikutip dari keterangan resmi, Jumat (23/4/2021).

Amonia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia. Namun, perkiraan permintaan Amonia saat ini belum mempertimbangkan peran Amonia sebagai alternatif bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya yang tinggi, emisi yang rendah, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan.

Vinod mengatakan, seiring dengan adanya peningkatan permintaan Amonia global, ESSA melihat peluang pengembangan permintaan amonia melalui Amonia Biru memiliki prospek yang baik.

Untuk itu, pada Maret 2021 lalu, Perseroan bekerjasama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage /CCUS) untuk produksi Amonia Biru di Indonesia di Pabrik Amonia di Banggai, Sulawesi Tengah.

Selanjutnya, pada Maret 2021 melalui anak perusahaannya - PT Panca Amara Utama (PAU), ESSA telah berhasil membiayai kembali pinjaman jangka panjang sebesar US$ 495 juta. Hal ini memungkinkan PAU untuk memiliki struktur permodalan yang lebih sederhana dan lebih ramping.

“Kami percaya pembiayaan baru ini menempatkan Perusahaan dalam posisi yang tepat untuk menciptakan fondasi yang kuat di masa-masa yang penuh ketidakpastian ini serta untuk selalu berkontribusi sebagai Satu untuk Indonesia,” tutup Vinod.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten surya esa perkasa
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top