Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indeks LQ45 Tertekan Perusahaan Kertas Sinar Mas

Pada akhir sesi I pukul 11.30 WIB, Indeks LQ45 turun 0,91 persen atau 8,52 poin menuju 932,01. Sepanjang pagi ini, Indeks LQ45 bergerak di rentang 927,5-936,9.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 24 Maret 2021  |  12:12 WIB
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia di Sidoarjo. Pabrik ini mulai beropersi pada 1978 dengan kapasitas tahunan 12,000 metrik ton. - tjiwi.co.id
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia di Sidoarjo. Pabrik ini mulai beropersi pada 1978 dengan kapasitas tahunan 12,000 metrik ton. - tjiwi.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks LQ45 mengalami koreksi pada sesi I perdagangan Rabu (24/3/2021) seiring dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada akhir sesi I pukul 11.30 WIB, Indeks LQ45 turun 0,91 persen atau 8,52 poin menuju 932,01. Sepanjang pagi ini, Indeks LQ45 bergerak di rentang 927,5-936,9.

Saham LQ45 yang paling merosot pada pagi ini adalah PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP).

Keduanya merupakan entitas Grup Sinar Mas di bidang kertas. Saham TKIM anjlok 5,66 persen menuju Rp11.675, dan saham INKP turun 3,54 persen menjadi Rp11.575.

Di urutan ketiga, saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) ambrol 3,46 persen menuju Rp1.255. Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 3 persen, dan saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) koreksi 2,98 persen.

Sementara itu, saham PT BTPN Syariah Tbk. (BTPS) menguat paling tinggi, yakni 3,65 persen menuju Rp3.690. Selanjutnya, saham PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) naik 2,34 persen ke level Rp2.620.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 6195,93 setelah terkoreksi 0,91 persen di akhir sesi I perdagangan hari ini.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji mengatakan pergerakan indeks komposit hari ini tertekan oleh respons negatif pelaku pasar atas sejumlah sentimen yang datang dari luar maupun dalam negeri.

Salah satunya, kata Nafan, adalah memanasnya hubungan bilateral antara Amerika Serikat dengan China dan wacana Presiden AS Joe Biden untuk menaikkan tarif pajak untuk membayar stimulus jumbo yang akan dilancarkan pemerintah AS.

“Ini disikapi negatif oleh pelaku pasar,” kata Nafan, Rabu (24/3/2021)

Tak hanya itu, dia menilai market juga semakin prihatin dengan kenaikan kasus COvid-19 secara global dan perkembangan mutasi virus di berbagai negara.

Sementara dari dalam negeri, perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro hingga 5 April mendatang ikut jadi sentimen negatif.

Ditambah adanya pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih akan minus -0,1 persen hingga -1 persen pada kuartal I/2021, turut menekan IHSG.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI lq45
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top