Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar dan Obligasi AS Melemah, Rupiah Lebih Perkasa

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 80 poin atau 0,56 persen ke level Rp14.245. Indeks dolar di sisi lain melemah 0,01 persen ke level 90,779.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 03 Maret 2021  |  16:03 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Melemahnya dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) menopang rebound nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (3/3/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 80 poin atau 0,56 persen ke level Rp14.245. Indeks dolar di sisi lain melemah 0,01 persen ke level 90,779.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini menuliskan Kurs Jisdor di level Rp14.334. Nilai itu melemah dibandingkan Kurs Jisdor pada Selasa (2/3/2021) di posisi Rp14.307.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya menyebutkan, penguatan tajam rupiah didorong oleh melemahnya dolar AS seiring dengan imbal hasil US Treasury yang terus melemah.

“Hal ini memulihkan ketenangan ke pasar global dan mengembalikan permintaan untuk aset berisiko,” ujarnya.

Penurunan imbal hasil tersebut direspons dengan aksi jual oleh para investor. Kendati demikian, kondisi pasar tetap stabil meski tanda-tanda pemulihan ekonomi AS dari virus corona dapat menyebabkan penurunan harga obligasi dan derivatif lagi.

Sementara itu, Gubernur The Fed Lael Brainard mengatakan pihaknya akan tetap mempertahankan rencana moneter ultra-mudah mereka. The Fed juga akan merilis Beige Book di kemudian hari.

Barinard mengatakan, The Fed akan berpegang pada retorika dovish yang telah dilakukan. Ia juga mengatakan masih banyak alasan untuk menutupi pekerjaan dan inflasi.

Selain itu, paket stimulus fiskal AS senilai US$1,9 triliun telah memicu ekspektasi pasar untuk pemulihan yang cepat. Rancangan anggaran tersebut disahkan oleh DPR pada minggu sebelumnya dan akan diperdebatkan oleh Senat AS pekan ini.

Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah meyakini di tahun 2021 ini ekonomi Indonesia akan pulih atau tumbuh positif pada kisaran 4,5 persen - 5,3 persen, atau dari jurang resesi. Prediksi tersebut sejalan dengan pemulihan perekonomian global yang diperkirakan akan tumbuh di rentang 4,0 persen-5,5 persen di tahun ini.

Keyakinan tersebut mengacu pada angka kesembuhan dari kasus COVID-19 yang meningkat hingga 85,88 persen dan tren angka kematian yang terus turun di kisaran 2,71 persen. Selain itu,pemerintah terus mengupayakan berbagai langkah guna menurunkan laju penyebaran serta memicu pemulihan ekonomi

Sentimen ini juga didukung oleh indeks manufaktur yang masih berada pada level ekspansif 50,9 pada Februari 2021, dan indeks kepercayaan konsumen yang terus membaik serta permintaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus meningkat.

Berdasarkan perkembangan tersebut, pemulihan ekonomi Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang mampu menurunkan angka kematian sembari mempertahankan kinerja ekonomi yang relatif baik.

Untuk perdagangan Kamis (4/3/2021) besok, Ibrahim memprediksi peluang penguatan lebih lanjut masih terbuka. Kisaran pergerakan rupiah untuk besok berada pada rentang Rp14.210 - Rp14.270 per dolar AS.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top