Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

SSMS Jajaki Penambahan Kepemilikan Saham Citra Borneo Utama Hingga 50 Persen

Rencana menambah kepemilikan saham CBU ini mempertimbangkan berbagai faktor, yaitu due diligence, strategic partner, dan faktor lainnya.
Petani membawa kelapa sawit hasil panen harian di kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (11/5). Bisnis/Nurul Hidayat
Petani membawa kelapa sawit hasil panen harian di kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (11/5). Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen minyak sawit, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk., menjajaki penambahan porsi saham di PT Citra Borneo Utama sebagai salah satu strategi memacu bisnis penghiliran perseroan.

Direktur Keuangan Sawit Sumbermas Sarana Hartono Jap mengatakan bahwa perseroan menargetkan jumlah kepemilikan saham atas PT Citra Borneo Utama (CBU) menjadi 50 persen.

Dia pun mengatakan rencana menambah kepemilikan saham CBU ini mempertimbangkan berbagai faktor, yaitu due diligence, strategic partner, dan faktor lainnya.

“Pembelian saham CBU itu memperkuat strategi bisnis penghiliran perseroan untuk meningkatkan utilisasi pabrik penyulingan kelapa sawit mencapai 100 persen dari sebelumnya sebesar 70 persen dari kapasitas 2.500 ton/hari,” ujar Hartono seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (2/3/2021).

Adapun, belum lama ini emiten berkode saham SSMS itu menambahkan porsi kepemilikannya terhadap CBU menjadi 32 persen daripada sebelumnya sebesar 19 persen, melalui skema konversi utang PT Citra Borneo Indah kepada SSMS.

Untuk diketahui, Citra Borneo Utama adalah perusahaan pengolahan kelapa sawit dan memproduksi turunan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) untuk diekspor ke negara tujuan, seperti India, China, Pakistan, dan Bangladesh.

Adapun, porsi ekspor SSMS pada 2020 sekitar 10 persen – 15 persen dari total keseluruhan hasil produksi. 

Di sisi lain, SSMS menargetkan produksi CPO pada 2021 naik 10 persen hingga 15 persen dibandingkan dengan realisasi produksi 2020. Dari target itu, SSMS menargetkan rata-rata tingkat ekstraksi CPO (OER) sebesar 22,5 persen.

Hartono menyebutkan tren kenaikan harga CPO global seperti saat ini merupakan momentum yang tepat untuk untuk menggenjot produksi CPO.

SSMS yakin harga CPO masih akan dalam tren kenaikan seiring dengan dampak La Nina dan masa CPO dunia yang sudah melewati masa produksinya. 

Selain itu, secara jangka panjang produksi CPO perseroan dipastikan akan terus meningkat seiring dengan profil usia perkebunan yang masih berada pada usia produksi yang prima.

Dengan demikian, pendapatan perseroan diyakini dapat tumbuh baik mengingat kontribusi pendapatan terbesar berasal dari produksi TBS internal yang terus tumbuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper