Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Suku Bunga Kian Rendah dan Harga Obligasi Masih Murah, Investor Disarankan Cicil Beli

penurunan BI7DRR akan memberikan dampak positif ke pasar obligasi karena suku bunga rendah akan mengerek harga obligasi Indonesia. Namun, efek tersebut belum akan dirasakan dalam jangka pendek.
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Posisi yield obligasi Indonesia yang masih tinggi di tengah suku bunga acuan yang mengalami penurunan dianggap sebagai waktu yang tepat bagi investor untuk melakukan cicil beli.

Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebanyak 25 bps menjadi 3,50 persen. Level tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan sebenarnya keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga di Februari lebih cepat dari perkiraan. Namun, hal tersebut wajar mengingat data ekonomi Indonesia belum sesuai ekspektasi.

“Kenyataannya perkembangan di awal tahun ini tidak sebagai yang diharapkan, inflasi masih sangat rendah, pertumbuhan ekonomi masih negatif, lalu PPKM juga malah semakin ketat sehingga memicu perlambatan pemulihan ekonomi sehingga BI harus turun tangan,” tuturnya, Kamis (18/2/2021)

Dia menilai dampak penurunan suku bunga sebenarnya baru akan terasa jika aktivitas masyarakat mulai berjalan normal dan kebutuhan pendanaan mulai berjalan. Pasalnya, di tengah kondisi saat ini minat bank untuk menyalurkan kredit juga masih rendah karena khawatir kredit bermasalah atau (NFL).

Di sisi lain, Wawan menilai penurunan BI7DRR akan memberikan dampak positif ke pasar obligasi karena suku bunga rendah akan mengerek harga obligasi Indonesia. Namun, efek tersebut belum akan dirasakan dalam jangka pendek.

“Dalam 3—6 bulan ke depan pasti positif untuk SUN ya, sekarang memang belum terlihat karena yield kita masih tinggi, tapi ini artinya obligasi masih murah sekali dan bisa dimanfaatkan untuk cicil beli,” tuturnya lagi.

Wawan menuturkan, dengan posisi suku bunga di level 3,5 persen, nilai wajar yield adalah di kisaran 5,50 persen—5,75 persen. Namun, saat ini kondisi ekonomi Indonesi amasih lemah terlihat dari inflasi masih sangat rendah sehingga harga obligasi masih cenderung loyo.

"Kalau katalisnya positif, vaksinasi jalan, Covid-19 terkendali, itu pasti akan men-driver harga obligasi naik. Sekarang anomali karena terkait perlambatan ekonomi, kemarin dana asing juga banyak jual makanya harganya tertekan turun. Kalau secara fundamental dengan suku bunga serendah ini harusnya naik,” jelasnya.

Pun, jika harga obligasi mulai merespons dengan positif, Wawan menyebut kinerja reksa dana pendapatan tetap juga akan turut terangkat. Dia memproyeksi reksa dana pendapatan tetap bisa menccetak kinerja 7-7,5 persen tahun ini.

Terpisah, CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula menilai pasar sudah mengantisiapsi pemangkasan suku bunga acuan oleh BI tersebut mengingat pemulihan ekonomi masih belum berjalan dengan cepat.

“Jadi memang butuh dukungan dari sisi moneter lagi selain dengans timulus-stimulus lainnya ya,” kata Ezra kepada Bisnis, Kamis (18/2/2021)

Untuk pasar obligasi, dia menyebut suku bunga rendah akan menopang pasar obligasi karena penurunan suku bunga acuan akan diikuti oleh penurunan bunga perbankan dan akhirnya yield obligasi ikut turun.

Akan tetapi, di pertengahan kuartal I ini di amenilai yield masih tinggi lebih karena disebabkan sentimen global seperti perkembangan stimulus dan kebiajakan di Amerika Serikat sehingga yield cenderung tinggi.

“Sebenarnya yang dilakukan BI sudah tepat meneurunkan suku bunga untuk menjaga recovery ekonomi dan melihat inflasinya masih rendah,” tutur dia.

Menurutnya, setelah sentimen global mereda maka harga obligasi akan kembali pada fundamentalnya, yang mana suku bunga Indonesia sangat rendah, bond yield bersaing dibandingkan dengan negara berkembang lain, inflasi rendah dan dari sisi nulai tukar juga terjaga.

“Itu investor pasti akan melhat seberapa menariknya obligasi Indonesia. Jadi memang kalau mau masuk bisa dari sekarang,” pungkasnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper