Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). - Bisnis/Himawan L Nugraha
Premium

Kasus Asabri-Jiwasraya dan Transaksi Gelap di Pasar Modal

15 Februari 2021 | 21:09 WIB
Berbagai kasus penyalahgunaan dana investasi perusahaan asuransi merembet ke pasar modal. Jumlah transaksi gelap di lantai bursa pun melonjak pada 2020.

Bisnis.com, JAKARTA — Berbagai kasus korupsi yang melanda dunia asuransi Indonesia selama beberapa waktu terakhir rupanya menyeret sektor pasar modal. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menyebutkan jumlah transaksi mencurigakan di lantai bursa melonjak 751,9 persen sepanjang 2020.

Dalam laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang dirilis baru-baru ini, angka transaksi mencurigakan yang terjadi di pasar modal menembus 443 kasus. Bandingkan dengan 2019, yang hanya mencatatkan 52 kasus transaksi mencurigakan.

Pertumbuhan transaksi gelap itu adalah yang tertinggi dari semua jenis kejahatan yang diidentifikasi oleh lembaga intelijen keuangan PPATK.

Berdasarkan catatan Bisnis, ada dua kasus besar yang menjadi perhatian dan merembet ke pasar modal, yakni skandal korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) alias Asabri. Nilai korupsinya mencapai triliunan rupiah, tepatnya Rp16,8 triliun untuk Jiwasraya dan Rp23,7 triliun untuk Asabri.

Dua kasus tersebut kemudian merembet ke pasar modal karena dana yang digelapkan diduga mengalir ke lantai bursa, termasuk ke emiten-emiten tertentu yang terkait dengan Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat. Dua sosok ini dikenal sebagai investor lama di bursa Indonesia dan memiliki sejumlah perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal.

PT Hanson International Tbk. (MYRX) menjadi contoh emiten yang langsung terdampak negatif oleh kasus Jiwasraya. Perusahaan properti yang dipimpin dengan Benny Tjokro itu akhirnya harus rela pailit dan tinggal menunggu waktu ditendang dari daftar emiten Bursa Efek Indonesia (BEI).

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

BisnisRegional

To top