Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Minat ke Reksa Dana Indeks Terus Meningkat, Ini Sebabnya

Berdasarkan data Infovesta Utama, NAB reksa dana indeks per akhir Januari 2021 mencapai Rp9,96 triliun, naik 6,05 persen dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2020 yang sebesar Rp9,39 triliun.
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Minat investor terhadap reksa dana berbasis indeks terus meningkat, terbukti dari jumlah dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) produk reksa dana indeks yang terus bertumbuh.

Berdasarkan data Infovesta Utama, NAB reksa dana indeks per akhir Januari 2021 mencapai Rp9,96 triliun, naik 6,05 persen dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2020 yang sebesar Rp9,39 triliun.

Ini berbanding terbalik dengan dana kelolaan reksa dana saham yang menyusut 3,11 persen dalam periode yang sama, dari Rp126,00 triliun menjadi Rp122,07 triliun.

“Reksa dana saham itu susut salah satunya karena valuasi aset yang turun saat pasar koreksi di akhir Januari, tapi kita lihat reksa dana indeks yang mengacu ke indeks saham malah naik, berarti ada subscription [pembelian] yang besar di situ,” jelas Head of Market Research Infovesta Utama, Wawan Hendraya, Selasa (9/2/2021)

Dia menuturkan, reksa dana indeks memang tengah dalam pertumbuhan pesat. Pasalnya, minat investor baik ritel maupun institusi kini mengarah ke reksa dana yang dikelola secara pasif tersebut.

Menurut Wawan, ada dua faktor utama yang membuat reksa dana indeks menarik. Pertama, risiko pasarnya terbilang kecil dibandingkan dengan reksa dana saham konvensional, karena pergerakan reksa dana indeks biasanya tak jauh berbeda dengan IHSG.

“Mayoritas indeks yang dijadikan acuan untuk reksa dana indeks ini kinerjanya pasti searah dengan pasar, jadi investor bisa mendapat sedikit kepastian untuk menerka kinerjanya,” imbuhnya.

Kemudian faktor kedua, reksa dana indeks jauh lebih transparan karena portofolionya hampir 100 persen identik dengan anggota konstituen indeks acuan produk tersebut sehingga investor lebih mudah untuk menjustifikasi.

“Ini terutama bagi investor insitusi, karena “risiko salah pilih” mereka bisa dibilang ngga ada. Apalagi belakangan ini banyak kasus-kasus soal portofolio kan,” tutur dia.

Wawan mengatakan reksa dana indeks ini akan sangat cocok bagi investor yang ingin memiliki eksposur ke pergerakan saham, tapi tidak terlalu berambisi untuk mengalahkan kinerja indeks.

Chief Investment Officer UOB Asset Management Indonesia Albert Budiman menganjurkan reksa dana indeks untuk menjadi pilihan bagi investor pemula yang ingin mulai berinvestasi di aset berbasis saham.

Menurutnya, di tengah demam investasi di pasar saham yang belakangan ini tengah melanda masyarakat, banyak investor baru yang mungkin kapok berinvestasi karena belum mengerti sepenuhnya tentang dinamika pasar saham.

“Nah mereka pasti tersadar,investasi saham itu untuk jangka panjang, bukan jangka pendek. Di reksa dana indeks ini mereka bisa tenang investasi secara pasif, secara total dalam jangka panjang juga akan lebih menguntungkan dibanding mereka pilih saham sendiri,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper