Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Kebijakan The Fed, Rupiah Melemah Lagi Beb!

Pada perdagangan hari ini, Kamis (28/1/2021), nilai tukar rupiah terhdap dolar AS ditutup melemah bersamaan dengan tren serupa di kawasan Asia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  15:46 WIB
Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (28/1/2021). Rupiah melemah di tengah depresiasi mata uang di Asia seiring dengan tren penguatan dolar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah parkir di zona merah setelah melemah 28 poin atau 0,19 persen ke level Rp14.078. Adapun indeks dolar terpantau menguat 0,13 persen ke level 90,765.

Pelemahan rupiah bersamaan dengan tren serupa di kawasan ASia. Mata uang won Korea menjadi pemimpin pelemahan setelah ditutup melemah 1,36 persen. Hanya ringgit Malaysia dan yuan China yang menguat terhadap dolar hari ini. 

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan indeks dolar kembali menguat setelah The Federal Reserve AS menyatakan kekhawatiran tentang kecepatan pemulihan ekonomi di AS. Bank sentral Negeri Paman Sam itu pun mengumumkan hasil rapat bulanan edisi Januari 2021. Hasilnya sesuai dengan ekspektasi pasar.

The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0-0,25%. The Fed juga berkomitmen tetap menjalankan program pembelian obligasi (quantitative easing) sampai ekonomi dan pasar tenaga kerja betul-betul pulih dari dampak pandemi virus corona.

Saat ini, The Fed memborong obligasi pemerintah AS setidaknya US$ 80 miliar per bulan plus aset beragun kredit properti (mortgage-backed securities) US$ 40 miliar.

"Informasi yang negatif dari data eksternal dan internal membuat arus modal asing kembali keluar pasar finansial dalam negeri sehingga berdampak terhadap pelemahan mata uang garuda," jelas Ibrahim melalui keterangan tertulis, Kamis (28/1/2021).

Dari dalam negeri, Ibrahim mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di  2020 diperkirakan terkontraksi 2 persen. Hal itu dipicu penerapan pembatasan sosial berskala besar yang menekan tingkat konsumsi masyarakat.

Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa tumbuh 4,4 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia diturunkan oleh International Monetary Fund (IMF).

Ke depan, pemerintah juga masih menerapkan pembatasan sosial bertajuk penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Hal itu dilakukan karena angka infeksi Covid-19 masih tinggi dan menembus 1 juta.

"Walaupun pemerintah terus mengimbangi dengan memvaksinasi masyarakat secara berkala, namun belum bisa menahan laju penyebaran Covid-19 bahkan sudah bermutasi," tutur Ibrahim.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Kebijakan The Fed
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top