Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten Ramai Rilis Obligasi Global

Sejumlah emiten menerbitkan obligasi global senilai ratusan juta dolar AS pada awal 2021.
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Mengawali bulan pertama 2021, sejumlah emiten menerbitkan emisi obligasi global atau global bond.

Kabar terbaru, PT Bukit Makmur Mandiri Utama atau BUMA, anak usaha PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID), akan menerbitkan obligasi global senilai US$400 juta atau setara Rp5,63 triliun dengan asumsi kurs Jisdor Rabu (27/1/2021) Rp14.091 per dolar AS.

Obligasi itu memiliki tenor 5 tahun dengan kupon sebesar 7,75 persen yang akan dibayarkan setiap 6 bulan dan dicatatkan di Singapore Exchange Securities Trading Limited (SGX-ST).

Adapun, J.P Morgan dan UBS AG Singapore ditunjuk sebagai joint bookrunners dari penerbitan obligasi global tersebut. Surat utang itu telah mendapatkan peringkat Ba3 dengan outlook negatif dari Moodys dan peringkat BB- dengan outlook negatif dari Fitch Solutions.

Head of Investor Relations Delta Dunia Makmur Regina Korompis mengatakan bahwa selama masa penawaran perseroan bersama dengan anak usahanya itu melaksanakan virtual roadshow sehubungan dengan transaksi dengan investor dari beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Setelah periode bookbuilding berakhir, perseroan berhasil mendapatkan respon yang positif dari penawaran itu, yaitu berhasil mengumpulkan pemesanan sebesar lebih dari US$1,15 miliar dari 101 pihak, sehingga penawaran itu mengalami oversubscription sebanyak 2,9 kali.

“Transaksi ini menunjukkan kepercayaan investor yang berkesinambungan terhadap perseroan meski banyak tantangan pasar di tengah pandemi global yang tengah berlangsung,” ujar Regina kepada Bisnis, Rabu (27/1/2021).

Hasil dana penerbitan surat utang itu akan digunakan perseroan untuk melunasi utang BUMA berdasarkan fasilitas pinjaman dengan MUFG dan obligasi jatuh tempo 2022 senilai US$350 juta yang memiliki kupon 7,75 persen.

Regina menjelaskan bahwa penerbitan ini memungkinkan BUMA untuk memperpanjang profil jatuh tempo utangnya, mengurangi amortisasi, meningkatkan arus kas, dan meningkatkan fleksibilitas operasional untuk mendukung pertumbuhan BUMA ke depannya.

Sementara itu, emiten tekstil PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) baru saja mendapatkan restu untuk menerbitkan global bond sebanyak-banyaknya US$350 juta oleh para pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar Selasa (26/1/2021).

Sekretaris Perusahaan Pan Brothers Iswardeni mengatakan bahwa obligasi itu akan jatuh tempo pada 2026 dan akan dicatatkan Bursa Efek Singapura (SGX). Selain itu, surat utang itu akan dijamin oleh perseroan dan entitas anak.

“Penggunaan dana obligasi untuk melunasi pinjaman PBRX dan entitas anak senilai US$171,08 juta yang jatuh tempo pada Januari 2022, pembiayaan kembali utang sindikasi senilai US$138,50 juta, dan sisanya untuk modal kerja PBRX,” ujar Iswardeni kepada Bisnis, Rabu (27/1/2021).

Selain itu, PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) juga mulai melakukan tender offer per 25 Januari 2021 untuk obligasi senilai 100 juta dolar Singapura dengan kupon 6 persen yang akan jatuh tempo 2026.

Mengutip keterbukaan informasi SGX, penerbitan surat utang itu termasuk dalam program multicurrency Medium Term Notes (MTN) dengan nilai 400 juta dolar Singapura.

Adapun, CTRA telah menunjuk DBS Bank Ltd dan Mandiri Securities Pte Ltd. sebagai joint bookrunner atas penerbitan itu. Surat utang itu direncanakan akan diterbitkan pada 2 Februari 2021 di SGX.

Kemudian, pada pekan lalu emiten menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) juga mencatatkan penerbitan obligasi global senilai US$300 juta pada 21 Januari 2021 di SGX.

Obligasi itu merupakan surat utang tanpa jaminan yang didahulukan (Senior Unsecured Notes) yang akan jatuh tempo pada 2026 dengan kupon 2,75 persen. Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memberikan peringkat BBB- untuk obligasi itu.

Dana hasil penerbitan obligasi itu akan digunakan TBIG untuk membayar sebagian saldo terutang dari fasilitas pinjaman revolving senilai US$375 juta, fasilitas pinjaman revolving US$100 juta (Fasilitas B), dan fasilitas pinjaman revolving US$200 juta (Fasilitas RLF tahun 2017).

Namun, jumlah pembiayaan kembali untuk Fasilitas B dan Fasilitas RLF tahun 2017 itu akan tetap tersedia dan dapat dipinjam kembali.

Di sisi lain, PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) juga tengah merancang obligasi valas dengan jumlah pokok sebanyaknya-banyaknya US$325 juta. Obligasi itu akan diterbitkan di SGX dengan kupon dan tenor yang belum dijelaskan secara detail oleh perseroan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper