Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Kian Menanjak, Saham Perkebunan Masih Tertinggal di Zona Merah

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 20 Januari 2021, indeks saham pertanian turun 2,46 persen ke level 1.461,08 sejak awal tahun.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 Januari 2021  |  14:07 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks saham sektor pertanian menjadi satu-satunya yang berada di zona merah pada periode tahun berjalan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 20 Januari 2021, indeks saham pertanian turun 2,46 persen ke level 1.461,08.

Selanjutnya, saham sektor industri barang konsumer turut mencatatkan performa yang lebih rendah dengan kenaikan 1,39 persen.

Pada saat bersamaan, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak penguatan 7,54 persen menjadi 6.429.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan sentimen negatif untuk industri perkebunan salah satunya berasal dari survei penurunan ekspor CPO di Malaysia.

Data terbaru dari Intertrek Testing Services menunjukkan ekspor CPO dari Malaysia ada periode 1—15 Januari 2021 turun sebesar 41,9 persen menjadi 416.565 ton dibandingkan periode sebelumnya.

“Secara keseluruhan, kami melihat harga CPO global akan diperdagangkan dari dua sisi [La Nina jadi katalis positif sementara penurunan ekspor CPO Malaysia menjadi penekan],” tulis Andy dalam riset mingguan, dikutip Kamis (21/1/2021).

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi juga menunjukkan saham emiten perkebunan rontok setelah harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) terkoreksi 2,80 persen ke level 3.323 ringgit per ton di Bursa Malaysia pada awal pekan ini.

Adapun, kisruh larangan impor dari pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap minyak sawit asal Malaysia terus berlanjut pada awal 2021.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mengumumkan larangan impor pada Rabu (30/12/2020) terkait adanya dugaan kerja paksa di perkebunan sawit asal Malaysia, Sime Darby Plantation Bhd.

Larangan impor CPO bukan yang pertama kalinya dilakukan pemerintah AS. Sebelumnya, mereka juga menerapkan tindakan serupa terhadap FGV Holdings Bhd. Malaysia dan Top Glove Corp., pembuat sarung tangan karet terbesar di dunia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI cpo perkebunan sektor pertanian
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top