Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham BUMN Ngegas Terus, Cermati Fundamental!

Kenaikan harga saham BUMN karya dinilai didorong oleh momentum atau sentimen. Investor harus memperhatikan aspek fundamental emiten sebelum menentukan keputusan invesasi atas saham-saham BUMN karya.
Pekerja menggunakan alat berat beraktivitas di proyek infrastruktur milik salah satu BUMN Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja menggunakan alat berat beraktivitas di proyek infrastruktur milik salah satu BUMN Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Harga saham BUMN karya belakangan ini terus mencuat karena pelaku pasar merespons positif kenaikan anggaran infrastruktur serta kehadiran Sovereign Wealth Fund (SWF) pada 2021. 

Kendati demikian, investor disarankan untuk tetap memperhatikan kondisi fundamental perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor infrastruktur konstruksi tersebut.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan penguatan harga saham BUMN Karya seperti saham WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP sudah terjadi sejak akhir 2020. Penguatannya di kemudian hari pun dinilai bisa terbatas.

“[Penguatan karena] Momentum juga. Dengan adanya SWF, dampak positifnya seperti apa ke BUMN Karya kan belum ketahuan,” jelas Reza kepada Bisnis, Selasa(19/1/2021).

Reza pun menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam mengakumulasikan saham BUMN Karya dengan terus mencermati sentimen yang ada.

Adapun, seluruh saham BUMN Karya belum direkomendasikan untuk dipegang jangka panjang. Pasalnya, dampak anggaran infrastruktur yang tinggi dan keberadaan SWF terhadap kinerja keuangan masing-masing perusahaan belum terukur.

Kondisi saat ini juga mengingatkan pada masa Presiden Joko Widodo pertama kali menjabat presiden pada 2014. Kala itu, santer program presiden adalah perkembangan tol laut dan infrastruktur konektivitas.

Kala itu, saham-saham yang terkait dengan kelautan dan BUMN Karya juga melesat. Namun, seiring berjalannya waktu dan isu perkembangan tol laut mulai meredup, harga saham-saham kelautan pun berguguran.

Hal yang sama terjadi pada perusahaan BUMN Karya. Reza mengingatkan kala itu pelaku pasar merespons positif perkembangan infrastruktur dengan gambaran BUMN Karya bakal mendapat banyak pendanaan.

Namun pada realitanya, ternyata BUMN Karya sendiri juga harus turut mendanai program konektivitas yang digagas pemerintah sehingga cashflow perseroan berbalik negatif.

“Waktu itu sempat cashflow BUMN Karya ini banyak yang negatif karena harapannya dapat dana dari pemerintah ini malah dia yang mengeluarkan. Ini semua kan baru ketahuan setelah melihat riil di lapangan, saat awal kan tidak ketahuan mekanismenya seperti apa tapi harga saham sudah naik duluan,” jelas Reza.

Mengutip data Bloomberg pada Selasa (19/1/2021), keempat saham BUMN Karya kompak melemah. Saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) memimpin pelemahan sebesar 5,11 persen menjadi Rp1.765 per saham pada pukul 14.05 WIB.

Selanjutnya saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) mengikuti dengan penurunan 4,89 persen menjadi Rp2.140 per saham. Saham PT PP (Persero) Tbk. terkoreksi 3,76 persen menjadi Rp2.050 per saham dan saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. turun 3,65 persen menjadi Rp1.850 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper