Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Investor Asing Serbu Pasar Modal RI hingga Jadi Jawara di Asean

Deregulasi kebijakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi, dan kondisi politik yang stabil menjadi faktor yang membuat investor asing berbondong lari ke pasar modal Indonesia.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 Januari 2021  |  07:21 WIB
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020).  ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 6.400 dan  masih terus melanjutkan tren penguatan. Kinerja itu pun berhasil menjadikan indeks dengan penguatan terbaik di antara rekan indeks Asean lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (13/1/2021) IHSG parkir di level 6.435,205, naik 0,62 persen atau 39,53 poin. Investor asing masih membukukan transaksi net buy sebesar Rp992,84 miliar.

Adapun, sepanjang tahun berjalan 2021 IHSG telah menguat 7,63 persen. Kinerja itu merupakan penguatan indeks komposit terbaik di antara rekan Asean lainnya. Kinerja IHSG tepat di atas Vietnam (+7,44 persen) dan Thailand (+7,34 persen).

Analis RHB Sekuritas Michael W Setjoadi menjelaskan bahwa pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun ini diproyeksi masih lebih baik dibandingkan  dengan rekan Asean lainnya.

Oleh karena itu, tak ayal asing menjadikan Indonesia pilihan  utama yang tercermin dari kinerja sepanjang tahun berjalan 2021. Belum lagi, omnibus law UU Cipta kerja yang telah diteken dan kondisi politik Indonesia yang lebih stabil.

“Oposisi di Indonesia sudah di rangkul jadi politik lebih stabil,  dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang saat ini cenderung tidak kondusif sehingga asing lebih memilih pasar Indonesia,” ujar Michael kepada Bisnis, Rabu (13/1/2021).

Namun demikian, Michael menjelaskan bahwa IHSG berpotensi mengalami  koreksi karena reli penguatan saat ini terjadi sangat cepat dan terlalu singkat sehingga valuasinya pun sudah diatas ambang wajar, dan melampaui fundamentalnya.

Indeks saat ini sudah kembali ke level 2019, tetapi ekonomi  saat ini belum mencerminkan dan masih jauh dari posisi pada 2019. Jika terkoreksi, level support terbesar IHSG berada di posisi  6.000-5.800 yang masih termasuk koreksi wajar.

Michael merekomendasikan sektor tambang, CPO, dan telekomunikasi  untuk dijadikan sektor yang bisa dicermati investor saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG bursa efek indonesia asean
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top