Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Emiten Anyar (DCII) Dilego Asing Rp850 Miliar di Pasar Nego

Transaksi jumbo atas saham PT DCI Indonesia Tbk. di pasar negosiasi dilakukan melalui broker yang sama.
PT DCI Indonesia./ Istimewa
PT DCI Indonesia./ Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Saham emiten pendatang baru, PT DCI Indonesia Tbk. memulai debut dengan mencengangkan. Selain sahamnya terkena auto reject atas, di pasar negosiasi saham DCI Indonesia juga diperdagangkan dengan nilai jumbo.

Berdasarkan data Bloomberg, terjadi transaksi jual beli saham berkode DCII melalui broker BCA Sekuritas. Sekuritas berkode itu mencatat nilai beli Rp837,83 miliar sedangkan nilai penjualan Rp850,96 miliar. 

Total volume saham dijual mencapai 2,02 miliar. Jumlah tersebut setara 84,99 persen dari total saham. Pihak penjual saham DCCI adalah dari kalangan investor asing. Untuk diketahui, 84,99 persen saham DCII dimiliki oleh DCI International Holding Pte Ltd.

Di pasar reguler, transaksi saham DCII amat kecil dibandingkan dengan di pasar negosiasi. Saham DCII langsung terkena auto reject atas atau ARA setelah naik 25 persen, sejam setelah perdagangan dibuka hari ini, Rabu (6/1/2020). Saham DCII pun bertengger di level 525.

Hari ini, DCII melepas saham ke publik sebanyak  357.561.900 saham baru atau setara dengan 15 persen dari modal disetor dan ditempatkan, dengan harga penawaran sebesar 420 per saham. DCII menjadi emiten kedua yang IPO di Bursa Efek Indonesia tahun ini, menyusul PT FAP Agri Tbk.

CEO DCI Indonesia Toto Sugiri menjelaskan langkah perusahaan go public merupakan bagian dari strategi untuk melanjutkan kinerja perusahaan hingga tahun lalu sudah positif.

Toto optimistis dengan prospek bisnis data center yang digeluti perseroan di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang sedang melesat. Di samping itu, teknologi cloud yang tumbuh secara eksponensial telah mendorong permintaan terhadap fasilitas data center hyperscale di Indonesia akhir-akhir ini.

Lebih lanjut, Toto menjelaskan, pasar data center ini diperkirakan memiliki total kapasitas 72,5 MW sampai akhir tahun 2020 dan menurut proyeksi Structure Research akan terus bertumbuh dengan CAGR sebesar 22,3 persen selama lima tahun ke depan.

“Bahkan hingga hari ini, kami terus merasakan permintaan pasar yang kuat dari pelanggan lokal maupun pelaku bisnis global yang ingin memasuki pasar Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (6/1/2021)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper