Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Merana, Rupiah Berjaya di Akhir Tahun!

Nilai rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen menjadi Rp14.050 pada perdagangan hari ini, Rbau (30/12/2020).
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Penundaan penambahan cek stimulus AS dan penetapan gelombang vaksinasi di Indonesia menjadi katalis positif bagi penguatan nilai tukar rupiah di akhir tahun.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (30/12/2020), nilai rupiah ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terkoreksi 0,11 persen menjadi 89,895.

Data yang diterbitkan Bank Indonesia pada hari ini menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.105 per dolar AS, naik 64 poin atau 0,45 persen dari posisi Rp14.169 pada Selasa (29/12/2020). Kinerja rupiah hari ini berkebalikan dengan kinerja pasar saham yang mana  IHSG melemah 0,95 persen ke level 5.979,07.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya menyebutkan, dari dalam negeri, pasar merespon rencana vaksinasi yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia yang terdiri dari dua gelombang. 

Gelombang pertama vaksinasi dilakukan pada Januari 2021 hingga April 2021. Vaksin akan disuntikkan kepada 1,3 juta petugas kesehatan dan 17,4 juta petugas publik.

Gelombang kedua vaksinasi akan dilakukan pada April 2021. Vaksin akan disuntikkan kepada 63,9 juta masyarakat rentan atau masyarakat di daerah dengan risiko penularan tinggi. Selanjutnya masyarakat lainnya dengan pendekatan klaster sesuai dengan ketersediaan vaksin dengan jumlah 77,4 juta penduduk.

“Pelaku pasar merespon positif kabar ini karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi ke depan yang akan kembali membaik dan arus modal asing kembali masuk dalam pasar finansial domestik. Sehingga, wajar kalau rupiah di akhir tahun ditutup menguat mendekati Rp14.000,” jelasnya.

Sementara itu, dari luar negeri, salah satu faktor penopang penguatan rupiah adalah sikap pelaku pasar yang mencerna kabar terkait penundaan penambahan cek stimulus di Amerika Serikat (AS) dari US$600 menjadi US$2.000.

Hal ini juga ditambah dengan keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve yang memperpanjang tanggal berakhirnya Program Pinjaman Jalan Utama hingga 8 Januari. Hal tersebut dilakukan guna memproses banyaknya aplikasi kredit diajukan sejak Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengakhiri fasilitas kredit darurat bank sentral pada November.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper