Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Tutup Tahun, Awan Gelap Masih Membayangi Harga Minyak

Malang tak bisa ditolak. Prospek harga minyak begitu buram seiring dengan katalis negatif yang menimpa komoditas ini. Selama pandemi belum terkendali, harga minyak masih akan terus terombang-ambing.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  13:44 WIB
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak berhasil menekan pelemahannya setelah pengesahan paket stimulus fiskal Amerika Serikat. Meski demikian, sejumlah katalis negatif masih membayangi pergerakan harga di sisa tahun 2020.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (28/12/2020), harga minyak dunia mulai dapat menghambat penurunannya setelah penandatangan paket stimulus AS oleh Presiden Donald Trump. Sebelumnya, minyak mencatatkan penurunan mingguan pertama sejak Oktober 2020 seiring dengan mutasi virus corona yang ditemukan pada beberapa negara.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Februari 2021 terkoreksi 0,2 persen ke level US$48,12 per barel di New York Mercantile Exchange hingga Senin siang.  Sehari berselang harga malah turun ke US$47,95 peer barel.

Sementara itu Sedangkan harga minyak Brent untuk kontrak Februari juga terkoreksi 0,3 persen ke posisi US$51,14 di ICE Futures Europe. Harga kemudian naik tipis ke level US$51,21 per barel pada Selasa (29/12/2020) pukul 13.37 WIB.

Harga minyak berjangka di New York pada pekan lalu anjlok 1,8 persen seiring dengan kebijakan pembatasan yang semakin ketat di Inggris. Hal tersebut dilakukan guna menekan mutasi virus corona yang terjadi pada beberapa wilayah negara tersebut.

Menanggapi kejadian tersebut, pemerintah China menghentikan sementara penerbangan yang membawa pejabat-pejabat dari Inggris dan Amerika Serikat.

Reli negatif harga minyak yang mulai mereda salah satunya disebabkan oleh penandatanganan paket stimulus fiskal oleh Presiden AS, Donald Trump. Undang-undang tersebut mencakup paket bantuan terkait virus corona senilai US$900 miliar yang dapat memulihkan permintaan minyak di Negeri Paman Sam tersebut.

Harga minyak mengakhiri tahun 2020 dengan muram seiring dengan pembatasan perjalanan yang kembali diberlakukan menekan sentimen distribusi vaksin virus corona ke seluruh dunia. Awalnya, sentimen tersebut diharapkan dapat memulihkan permintaan minyak dunia.

Kurva pergerakan harga minyak berjangka semakin memperkuat sentimen negatif tersebut. Spread kontrak minyak Brent berada di posisi contango sebesar 6 sen. Hal tersebut menunjukkan sentimen bearish dimana minyak dengan kontrak jangka pendek lebih murah dibandingkan dengan kontrak dengan jangka waktu panjang.

Ekonom OCBC Howie Lee mengatakan pasar minyak dunia kemungkinan tidak akan terlalu ramai hingga akhir tahun 2020. Meski demikian, ia melihat tren penurunan harga minyak akan tetap berlanjut.

“Mendekati akhir tahun, para pelaku pasar lebih memilih untuk melakukan tutup buku,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, pemulihan ekonomi di Asia juga mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Hal tersebut terlihat dari angka produksi barang industri di Jepang yang stagnan pada periode Oktober dan November.

Hal tersebut juga ditambah dengan tensi geopolitik AS dan Iran yang kembali memanas. Presiden AS Donald Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan roket yang terjadi pada Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad pada Minggu lalu. Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan menganggap pernyataan Trump tidak memiliki dasar yang kuat.

Adapun, pada saat yang sama Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pihaknya akan meningkatkan jumlah produksi minyak harian pada 2021. Hal tersebut bertentangan dengan rencana Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC+ yang akan mengembalikan output minyak dunia secara perlahan tanpa membanjiri pasar.

Sementara itu, laporan Commodity Markets Outlook yang dirilis oleh Bank Dunia menyatakan, prospek harga minyak dan komoditas lainnya tetap sangat tidak pasti dan amat bergantung pada durasi serta tingkat keparahan pandemi virus corona di sisa tahun ini, termasuk risiko gelombang kedua yang semakin intensif selama musim dingin di Belahan Bumi Utara. 

Hal tersebut seiring dengan risiko utama dari meningkatnya keparahan pandemi Covid-19 dapat mendorong penerapan kebijakan lockdown kembali di beberapa negara sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi perjalanan.

“Ini akan mempengaruhi permintaan minyak secara signifikan lebih dari komoditas lain,” demikian kutipan laporan tersebut

Dalam laporan tersebut, Bank Dunia memprediksi harga minyak mencapai rata-rata harga US$41 per barel pada 2020 sebelum akhirnya naik menjadi US$44 per barel pada 2021. Proyeksi tersebut naik dari perkiraan April 2020 sebesar US$35 per barel untuk tahun ini dan US$42 per barel untuk rata-rata pada 2021.

Secara terpisah, Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, disahkannya paket stimulus AS tidak akan berpengaruh signifikan terhadap harga minyak dunia hingga akhir tahun.

“Sentimen ini sudah diperhitungkan (priced in) oleh pelaku pasar, sama seperti faktor lain yakni vaksin virus corona, isu pilpres AS, dan tren reflationary trade,” katanya saat dihubungi pada Senin (28/12/2020).

Wahyu optimistis tren harga minyak dunia masih positif hingga akhir tahun meski saat ini tengah terkoreksi. Sejumlah katalis positif masih mendukung kenaikan harga minyak dunia, salah satunya adalah kejelasan vaksin virus corona.

Ia memperkirakan, harga minyak dunia masih berpeluang menembus level US$50 per barel di sisa tahun 2020. Sementara itu, pada kuartal I/2021, harga minyak diprediksi berada di kisaran US$35 hingga US$60 per barel.

“Tingkat US$40 menjadi level gravitasional jika harga minyak menguat ke depannya. Level ini juga menjadi baseline jangka panjang untuk harga minyak,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top