Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nilai Tukar Rupiah Menguat, Ini Dampaknya Buat Indocement (INTP)

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. menilai risiko nilai tukar mulai berkurang seiring dengan penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS. Biaya produksi tahun depan diperkirakan akan cenderung sama dengan tahun ini sehingga harga jual semen tidak akan fluktuatif.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 12 November 2020  |  12:02 WIB
Proses pemuatan kontainer berisi semen merk tiga roda. - indocement
Proses pemuatan kontainer berisi semen merk tiga roda. - indocement

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. menilai pergerakan nilai tukar rupiah yang kian stabil pascapemilihan Presiden Amerika Serikat akan menguntungkan perseroan dari sisi biaya produksi.

Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya menilai risiko nilai tukar telah berkurang saat ini setelah Joe Biden mengumpulkan 270 electoral vote, jumlah yang cukup untuk menenangkan pilpres AS.

“Sekarang kita melihat sudah Rp14.000 per dolar AS, ini positif sekali untuk semen,” kata Christian dalam paparan publik, Selasa (10/11/2020).

Dengan demikian, Christian memperkirakan biaya produksi emiten berkode saham INTP tersebut pada 2021 bakal tetap hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.  Selain posisi risiko nilai tukar yang lebih stabil, hal itu juga akan didukung oleh penurunan indeks pembelian batubara.

Pada tahun depan, secara umum Christian melihat harga semen tidak akan bergerak terlalu fluktuatif bahkan cenderung mendatar (flat). 

“Memang Hongshi [produsen baru semen asal China] sudah mendistribusikan produknya di Jawa Timur pada September 2020. Tapi sampai saat ini karena dia masih kecil saya melihat gejolak harga semen yang berarti belum ada,” ujar Christian.

Adapun, permintaan semen pada 2020 diperkirakan bisa kembali tumbuh positif pada kisaran 4 persen - 5 persen setelah jatuh -9 persen hingga -10 persen tahun ini.

Perkiraan tersebut didasari mengingat angka bujet infrastruktur yang ditingkatkan 47 persen secara tahunan menjadi Rp414 triliun pada 2021.

Christian juga melihat sentimen positif konsumsi semen dari pengesahan UU Cipta Kerja. Dengan berlakunya omnibus law, diperkirakan lebih banyak realokasi berbagai pabrik ke kawasan industri di Indonesia.

Untuk diketahui, dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS hingga ke level Rp14.000. Hingga pukul 09.51 WIB, nilai tukar rupiah melemah 80 poin ke level Rp14.165 per dolar AS.

Sementara itu, di akhir sesi pertama, saham Indocement turun 2,21 persen ke level 14.350. Namun, dalam sepekan terakhir, saham Indocement sudah naik 14,80 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah indocement
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top