Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Berakhir Variatif

Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup menguat, sedangkan indeks Nasdaq Composite melemah tertekan saham teknologi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 17 Oktober 2020  |  05:48 WIB
Aktivitas perdagangan saham di New York Stock Exchange. Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi setelah reli saham-saham teknologi, Selasa (1/9/2020). - Bloomberg
Aktivitas perdagangan saham di New York Stock Exchange. Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi setelah reli saham-saham teknologi, Selasa (1/9/2020). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat berakhir variatif pada perdagangan Jumat (16/10/2020) setelah perusahaan teknologi raksasa melemah.

Penguatan indeks sebelumnya didorong oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,39 persen ke level 28.606,31, sedangkan indesk S&P 500 menguat 0,01 persen ke level 3.483,81.

Di sisi lain, indesk Nasdaq Composite melemah 0,36 persen atau 42,31 poin ke level 11.671,56.

Saham Amazon.com Inc. melemah setelah karena Citigroup Inc. mengatakan pernyataan perusahaan pada acara penjualan baru-baru ini tidak cukup menggembirakan.

Di sisi lain, saham Boeing Co melonjak karena regulator penerbangan utama Eropa mengatakan pesawat 737 Max dapat kembali diijinkan terbang pada akhir tahun. Adapun, saham Hertz Global Holdings Inc. melonjak setelah raksasa persewaan mobil itu mendapat pendanaan senilai US$1,65 miliar.

Sebelumnya, Wall Street menguat setelah penjualan ritel AS kembali meningkat pada bulan September 2020 pada laju tercepat dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan data ritel ini melampaui perkiraan analis, sekaligus menandakan rebound belanja konsumen pada kuartal III/2020 yang menghadapi tantangan yang meningkat.

Data Departemen Perdagangan mencatat penjualan ritel keseluruhan meningkat 1,9 persen dari bulan sebelumnya, menyusul kenaikan 0,6 persen pada bulan Agustus.

Estimasi median ekonom dalam survei Bloomberg sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,8 persen. sementara itu, penjualan ritel yang tidak termasuk mobil dan bensin naik 1,5 persen.

"Sangat menggembirakan jika melihat orang-orang bersedia membelanjakan uang," kata kepala strategi investasi global Charles Schwab, Jeffrey Kleintop, seperti dikutip Bloomberg.

Di sisi lain, ia masih memiliki kekhawatiran apakah laju rebound di sektor ritel dapat dipertahankan jika kesepakatan stimulus tambahan tidak tercapai.

Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan kepada anggota partai Demokrat bahwa masih ada perbedaan pendapat dengan Gedung Putih atas sejumlah komponen stimulus fiskal yang dia coba negosiasikan.

Sementara itu, penasihat ekonomi Presiden Donald Trump Larry Kudlow mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network akan sulit bagi anggota parlemen untuk mengesahkan paket bantuan sebelum pemilihan presiden 3 November.

Investor juga memantau negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa, yang akan berlanjut pekan depan bahkan setelah PM Inggris Boris Johnson mengatakan dia yakin kesepakatan perdagangan sekarang tidak mungkin dicapai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top