Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawann
Premium

Menakar Pengaruh ‘Suplemen’ Baru Garuda Indonesia (GIAA)

09 Oktober 2020 | 18:01 WIB
PT Garuda Indonesia Tbk. baru saja mendapatkan pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) senilai Rp1 triliun. Lalu seberapa kuat 'suplemen' berupa pinjaman tersebut untuk menjaga napas GIAA selama pandemi?

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja keuangan yang kurang moncer pada paruh pertama tahun ini karena Covid-19, membuat emiten penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk. harus memutar strategi. 

Berdasarkan laporan keuangan, semester I/2020, GIAA membukukan penurunan pendapatan usaha 58,18 persen secara year on year (yoy) menjadi US$917,28 juta per 30 Juni 2020.

Maskapai pelat merah itu membukukan rugi yang diatribusikan kepada pemilik enititas induk US$712,73 juta atau setara dengan Rp10,19 triliun pada semester I/2020. 

Namun, angin segar juga diterima emiten penerbangan pelat merah tersebut, setelah Garuda Indonesia mengonfirmasi atas pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Pinjaman yang diperoleh Garuda Indonesia merupakan bagian dari upaya mendukung ekspor komoditas unggulan.

Dengan begitu, Garuda Indonesia berperan menyediakan aksesibilitas jalur penerbangan maupun pengembangan kapabilitas bisnis untuk meningkatkan daya saing komoditas ekspor Indonesia.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal menyampaikan perseroan mendapat pinjaman modal kerja ekspor senilai Rp1 triliun dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Fasilitas itu memiliki tenor satu tahun.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top