Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Alat berat membersihkan area penimbunan batu bara. -  Bloomberg / Nicolo Filippo Rosso
Premium

JP Morgan Bedah Batu Bara Indonesia, Jagokan PTBA, ADRO atau ITMG?

08 Oktober 2020 | 09:24 WIB
Harga batu bara di bursa Newcastle pada perdagangan Rabu (7/10/2020) waktu setempat atau Kamis (8/10/2020) dini hari waktu Indonesia ditutup di level US$61.

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkatan harga batu bara yang telah jauh meninggalkan harga terendahnya pada Mei—Agustus 2020 menjadi pendorong optimisme kinerja emiten di sektor tersebut. Prospek kian kinclong dengan adanya Undang-undang Cipta Kerja yang dapat memberi dampak ekstra.

Pada perdagangan Kamis (8/10/2020) dini hari waktu Indonesia, harga batu bara di bursa Newcastle berada di level US$61 per ton untuk pengiriman November 2020, terkoreksi 1,53 persen. Meski terkoreksi, level tersebut sudah mengalami peningkatan sebesar 20,37 persen dari level US$50,4 per ton pada Agustus 2020.

Tim Analis JP Morgan menilai penguatan harga batu bara belakangan ini disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, kemungkinan pelonggaran impor batu bara di China. Kedua, pembatasan pasokan yang sedang berlangsung. Ketiga, pemulihan harga spot Liquefied Natural Gas (LNG).

Kenaikan harga di China saat ini dinilai terjadi akibat adanya gangguan domestik dari pembatasan impor dan inspeksi ketat yang dilakukan regulator. Dengan demikian, JP Morgan menyimpulkan bahwa peluang relaksasi pembatasan impor sampai dengan Desember 2020 yang merupakan musim dingin di China.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top