Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sentimen Covid-19 Trump Dorong Permintaan Dolar AS, Harga Emas Berbalik Redup

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2020), harga emas spot koreksi 0,32 persen atau 6,17 poin menjadi US$1.899,84 per troy ounce.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 03 Oktober 2020  |  06:09 WIB
Karyawan menunjukan replika emas logam mulia di Butik Antam, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Harga emas PT Aneka Tambang Tbk. pada hari perdagangan Selasa (8/9/2020) menurun dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan menunjukan replika emas logam mulia di Butik Antam, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Harga emas PT Aneka Tambang Tbk. pada hari perdagangan Selasa (8/9/2020) menurun dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas berbalik meredup seiring dengan penguatan dolar AS akibat investor yang beralih ke aset aman di tengah sentimen ketidakpastian akibat Presiden AS Donald Trump positif Covid-19.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2020), harga emas spot koreksi 0,32 persen atau 6,17 poin menjadi US$1.899,84 per troy ounce. Harga sebelumnya sempat mencapai level tertinggi harian di US$1.917,16 per troy ounce.

Harga emas Comex kontrak Desember 2020 juga mengalami koreksi 0,45 persen atau 8,7 poin menuju US$1.907,6 per troy ounce.

Sementara itu, Indeks dolar AS meningkat 0,14 persen atau 0,133 poin menjadi 93,844, karena investor mencari perlindungan ke aset aman.

Mengutip Marketwatch, harga emas berjangka berakhir lebih rendah pada hari Jumat meskipun Presiden Donald Trump dan istrinya mengumumkan bahwa mereka telah tertular penyakit COVID-19 dan akan dikarantina di Gedung Putih selama berhari-hari.

Berita tak terduga datang saat perebutan kursi kepresidenan AS antara Trump dan mantan Wakil Presiden Joe Biden memanas. Beberapa ahli strategi berspekulasi bahwa berita tersebut memaksa investor untuk menerima status terdepan dari penantang Demokrat Biden, yang sudah memimpin dalam sebagian besar jajak pendapat melawan Trump.

"Emas naik sedikit semalam karena berita diagnosis Trump tetapi berbalik turun karena telah menjadi jelas bahwa berita tersebut tidak memicu kepanikan keluar dari ekuitas ke tempat berlindung seperti emas," Colin Cieszynski, kepala strategi pasar di SIA Wealth Management, kepada MarketWatch.

"Kurangnya stimulus baru dari Federal Reserve dan kemacetan politik yang menghalangi bantuan fiskal telah menjadi faktor dominan di balik koreksi emas ini dan kekuatan dolar terkait," kata Ryan Giannotto, direktur penelitian di GraniteShares.

Namun, penghentian stimulus tambahan tidak sepenuhnya bearish untuk emas, karena pasar saham membutuhkan dukungan moneter dan fiskal yang jauh lebih besar daripada emas," katanya.

Pasar menurutnya masih diliputi ketidakpastian yang kemudian dapat mendorong kembali permintaan emas. Optimisme ekonomi yang memudar dan gelombang kedua pemutusan hubungan kerja massal dari perusahaan seperti Disney, American Airlines, dan lainnya dengan tegas menggarisbawahi poin ini, dan ada kebutuhan emas sebagai diversifikasi aset.

Pemilihan presiden AS pada 3 November 2020, meningkatkan ketidakpastian dan diagnosis COVID-19 Trump menekankan pasar saham. Oleh karena itu, emas mungkin siap untuk keuntungan lebih lanjut.

Kenaikan harga logam mulia pada minggu ini terjadi karena dolar AS telah sedikit surut setelah reli pekan lalu, memberikan lebih banyak ruang untuk aset berbasis dolar untuk naik.

Dolar AS meskipun meningkat tetapi masih terkoreksi 0,9 persen pekan ini. Dolar yang lebih tinggi dapat membuat harga aset dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini dolar as Donald Trump
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top