Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sentimen Stimulus AS dan Virus Corona, Pasar Asia Ditutup Variatif

Indeks Kospi Korea Selatan menutup hari di zona hijau setelah parkir di posisi 2.327,89 atau naik 0,84 persen. Indeks Shanghai Composite juga terpantau menghijau 0,34 persen di level 3.228,43.
Bursa Asia/ Bloomberg.
Bursa Asia/ Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham Asia ditutup dengan hasil variatif seiring dengan sikap investor yang terus memantau kelanjutan paket stimulus Amerika Serikat dan  lonjakan kasus positif virus corona.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (29/9/2020), indeks Kospi Korea Selatan menutup hari di zona hijau setelah parkir di posisi 2.327,89 atau naik 0,84 persen. Indeks Shanghai Composite juga terpantau menghijau 0,34 persen di level 3.228,43.

Sementara itu, indeks Topix Jepang terkoreksi 0,23 persen pada level 1.658,2 disusul oleh Hang Seng Hong Kong dengan penurunan 0,6 persen di kisaran 23.335,34. Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup stagnan di level 5.952,1.

Dalam pembicaraan paket stimulus di AS, Partai Demokrat menyusun rencana paket bantuan sebesar US$2,2 miliar guna mencapai kesepakatan dengan Partai Republik. 

Ketua DPR AS dari Partai Demokrat Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin telah membicarakan hal ini pada Senin malam setelah rancangan tersebut diumumkan. Keduanya berencana untuk kembali bertemu untuk membicarakan paket stimulus fiskal tersebut pada Selasa waktu setempat.

Meski demikian, investor juga masih cenderung berhati-hati seiring dengan pemilihan presiden AS yang akan digelar pada November mendatang.

Para pelaku pasar juga tengah menanti angka ketenagakerjaan di AS pada Jumat pekan ini untuk mengukur kemampuan ekonomi Negara Paman Sam melewati pandemi virus corona.

President Portia Capital Management Michelle Connell mengatakan paket stimulus baru amat dibutuhkan saat ini. Kehadiran stimulus anyar tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pekerja AS, tetapi juga para pelaku pasar.

"Sentimen stimulus akan sangat membantu menjelang pemilihan presiden AS. Kondisi pasar diperkirakan akan fluktuatif dan lemah karena pelaku pasar menunggu Presiden AS selanjutnya," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper