Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tak Mampu Lawan Ketidakpastian Stimulus, Bursa Asia Babak Belur

Indeks Kospi Korea Selatan menjadi pasar dengan koreksi terdalam setelah ditutup di level 2.332,59 atau turun 2,38 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Composite terpantau ambles 1,26 persen di 3.275,27.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 September 2020  |  14:16 WIB
Bursa Saham Tokyo. - Kiyoshi Ota / Bloomberg
Bursa Saham Tokyo. - Kiyoshi Ota / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia tak mampu keluar dari tren pelemahan yang terjadi sejak perdagangan pagi tadi dan kembali ditutup di zona merah seiring dengan ketidakpastian stimulus fiskal dari pemerintah Amerika Serikat.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (22/9/2020), indeks Kospi Korea Selatan menjadi pasar dengan koreksi terdalam setelah ditutup di level 2.332,59 atau turun 2,38 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Composite terpantau ambles 1,26 persen di 3.275,27.

Selanjutnya, pasar Hong Kong juga ikut tergelincir setelah indeks Hang Seng turun 1,01 persen ke 23.708,92. Adapun, indeks S&P/ASX 200 Australia menutup perdagangan di kisaran 5.784,10 atau terkontraksi 0,61 persen.

Sejumlah sentimen mempengaruhi perdagangan hari ini, salah satunya adalah konflik dua kubu untuk menggantikan Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg yang merusak prospek yang sudah tipis untuk putaran stimulus fiskal lainnya.

Ketua DPR Nancy Pelosi dan Partai Demokrat merilis RUU pendanaan pemerintah sementara tanpa dukungan dari Gedung Putih atau Senat Republik.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan ekonomi membaik, tetapi jalan masih panjang sebelum pemulihan penuh dari pandemi.

“Valuasi saham saat ini semakin meregang dan para pelaku pasar kini mencari sentimen lain yang menggambarkan dukungan penuh dari The Fed dan upaya pemerintah AS untuk memberikan bantalan terhadap kerugian yang diderita selama pandemi. Ada kekhawatiran dari pelaku pasar bahwa sentimen pemilu AS akan berlangsung lebih lama setelah masa pemungutan suara,” jelas Macro Risk Advisors Founder dan Chief Executive Officer Dean Curnutt.

Mantan Komisaris Badan Administrasi Makanan dan Obat Scott Gottlieb memperingatkan AS mungkin mengalami "setidaknya satu siklus lagi" dari virus di musim gugur dan musim dingin.

Sementara itu, penyelidikan baru oleh Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional mengatakan beberapa bank global besar "terus mengambil untung dari pemain yang kuat dan berbahaya" dalam dua dekade terakhir bahkan setelah AS menjatuhkan hukuman.

Dokumen The Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) Files mengungkap bahwa JPMorgan, Deutsche Bank AG, dan HSBC Holdings Plc termasuk di antara bank-bank global yang terus mengambil untung dari pemain yang kuat dan berbahaya" dalam dua dekade terakhir, bahkan setelah AS menjatuhkan hukuman pada lembaga keuangan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top