Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Tertekan Sentimen FinCEN, Pasar Asia Ikut ke Lesu

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (22/9/2020), indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka di zona merah dengan koreksi sebesar 0,7 persen.
Bursa Asia/ Bloomberg.
Bursa Asia/ Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia dibuka terkoreksi menyusul penurunan yang terjadi di pasar Amerika Serikat karena ketidakpastian stimulus fiskal dari pemerintah.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (22/9/2020), indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka di zona merah dengan koreksi sebesar 0,7 persen. Tren serupa juga terjadi di Korea Selatan dimana indeks Kospi dibuka menurun 0,8 persen.

Sementara itu, pasar Jepang tutup karena hari libur di negara tersebut. Adapun indeks berjangka S&P 500 naik 0,4 persen hingga pukul 10.19 waktu Sydney, Australia.

Sejumlah sentimen mempengaruhi perdagangan hari ini, salah satunya adalah pertempuran partisan untuk menggantikan Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg yang merusak prospek yang sudah tipis untuk putaran stimulus fiskal lainnya.

Ketua DPR Nancy Pelosi dan Partai Demokrat merilis RUU pendanaan pemerintah sementara tanpa dukungan dari Gedung Putih atau Senat Republik.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan ekonomi membaik, tetapi jalan masih panjang sebelum pemulihan penuh dari pandemi.

“Valuasi saham saat ini semakin meregang dan para pelaku pasar kini mencari sentimen lain yang menggambarkan dukungan penuh dari The Fed dan upaya pemerintah AS untuk memberikan bantalan terhadap kerugian yang diderita selama pandemi. Ada kekhawatiran dari pelaku pasar bahwa sentimen pemilu AS akan berlangsung lebih lama setelah masa pemungutan suara,” jelas Macro Risk Advisors Founder dan Chief Executive Officer Dean Curnutt.

Mantan Komisaris Badan Administrasi Makanan dan Obat Scott Gottlieb memperingatkan AS mungkin mengalami "setidaknya satu siklus lagi" dari virus di musim gugur dan musim dingin.

Sementara itu, penyelidikan baru oleh Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional mengatakan beberapa bank global besar "terus mengambil untung dari pemain yang kuat dan berbahaya" dalam dua dekade terakhir bahkan setelah AS menjatuhkan hukuman.

Dokumen The Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) Files mengungkap bahwa JPMorgan, Deutsche Bank AG, dan HSBC Holdings Plc termasuk di antara bank-bank global yang terus mengambil untung dari "pemain yang kuat dan berbahaya" dalam dua dekade terakhir, bahkan setelah AS menjatuhkan hukuman pada lembaga keuangan ini.

Dokumen tersebut merinci transaksi lebih dari US$2 triliun antara 1999 dan 2017 yang diduga sebagai kemungkinan praktik pencucian uang atau aktivitas kriminal lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper