Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FinCEN Files Seret Saham Perbankan, Wall Street Anjlok ke Level Terendah Dua Bulan

Dilansir dari Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 2,45 persen ke level 26.978,49, sedangkan indeks S&P 500 melemah 1,61 persen dan Nasdaq Composite turun 1,47 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 September 2020  |  21:24 WIB
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York -  Bloomberg / Demetrius Freeman
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York - Bloomberg / Demetrius Freeman

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amrtika Serikat melemah ke level terendah sejak Juli 2020 pada perdagangan Senin (21/9/2020) menyusul munculnya dokumen laporan FinCEN yang mengungkapkan transaksi janggal beberapa bank global besar yang diduga meloloskan praktek pencucian uang.

Dilansir dari Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 2,45 persen ke level 26.978,49, sedangkan indeks S&P 500 melemah 1,61 persen dan Nasdaq Composite turun 1,47 persen.

Harga saham-saham perbankan berguguran di awal perdagangan, termasuk saham JPMorgan Chase & Co, Bank of America Corp, dan Citigroup Inc. jatuh.

Di sisi lain, saham sektor penerbangan dan pariwisata seperti Carnival Corp. dan American Airlines Group Inc. menguat dan mengimbangi pelemahan.

Dilansir dari Bloomberg, dokumen The Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) Files mengungkap bahwa JPMorgan, Deutsche Bank AG, dan HSBC Holdings Plc termasuk di antara bank-bank global yang terus mengambil untung dari pemain yang kuat dan berbahaya" dalam dua dekade terakhir, bahkan setelah AS menjatuhkan hukuman pada lembaga keuangan ini.

Dokumen tersebut merinci transaksi lebih dari US$2 triliun antara 1999 dan 2017 yang diduga sebagai kemungkinan praktik pencucian uang atau aktivitas kriminal lainnya.

Ketika kematian AS terkait Covid-19 mendekati 200.000, mantan Komisaris Badan Pengawas Makanan dan Obat AS Scott Gottlieb mengatakan dia memperkirakan Negeri Paman Sam akan mengalami "setidaknya satu siklus lagi" penyebaran virus di musim gugur dan musim dingin.

Pelaku pasar juga mencermati kabar penggantian hakim agung AS Ruth Bader Ginsburg yang meninggal Jumat lalu. Pemimpin Senat AS dari Partai Republikan Mitch McConnell mengatakan pihaknya akan mengadakan voting untuk mengkonfirmasi nominasi pengganti Ginsburg.

Meski demikian, rencana tersebut ditolak oleh Partai Demokrat. Kandidat Presiden dari Partai Demokrat Joe Biden mengatakan hal tersebut akan menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diubah kembali.

"Pasar memulai pekan ini dalam mode risk-off," kata kepala strategi mata uang global Brown Brothers Harriman & Co, Win Thin, seperti dikutip Bloomberg.

“Sulit untuk menunjukkan satu penyebab karena ada banyak risiko yang berkembang. Beberapa dari pendorong ini telah hadir selama berminggu-minggu,” lanjutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top