Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kepemilikan Asing di SBN Bisa Ke Atas 30 Persen Lagi, Asalkan...

Harapan penemuan vaksin Covid-19 dan kepastian Pemilu AS yang dapat meredakan volatilitas global bakal menjadi alasan bagi investor asing kembali ke Indonesia.
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Porsi kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan mampu pulih ke atas 30 persen ketika volatilitas dunia akibat pandemi Covid-19 mereda.

Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu tempat bagi investor nonresiden memanen return yang menarik dibandingkan negara berkembang lainnya.

CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Ezra Nazula menilai kembalinya investor asing ke pasar obligasi domestik akan mendorong yield SUN bertenor 10 tahun menuju ke 6 persen dari level sekarang pada kisaran 6,8 persen - 6,9 persen.

Adapun, harapan penemuan vaksin Covid-19 dan kepastian Pemilu AS yang dapat meredakan volatilitas global bakal menjadi alasan bagi investor asing kembali ke Indonesia.

Apalagi ketika aset di negara maju seperti AS sudah semakin mahal, asing akan condong beralih ke aset di negara berkembang.

“Selama kurs rupiah lebih terjaga, kelihatannya akan terjaga di Rp15.000 per dolar AS untuk bottom-nya, itu mereka akan lebih berani untuk masuk ke pasar obligasi kita,” ujar Ezra kepada Bisnis, Rabu (17/9/2020).

Menurut Ezra, saat ini investor asing lebih banyak yang underweight terhadap pasar obligasi Indonesia dan masih menunggu momentum untuk masuk. 

Apabila sudah mendapatkan momentum, misalnya dari sisi nilai tukar dan mode risk on sudah kembali, bukan tidak mungkin kepemilikan asing di SBN bisa kembali ke atas 30 persen.

Adapun, First State Investments yang mengelola aset hingga US$145 miliar secara global termasuk yang menurunkan posisi terhadap pasar SUN menjadi netral.

Head of Emerging Markets and Asian Fixed Income First State Investments Jamie Grant mengatakan rupiah sebagai mata uang dengan performa terburuk di Asia sejak Maret 2020 menjadi sentimen negatif untuk pasar obligasi Tanah Air. Padahal, indeks dolar AS sudah jauh melemah dari posisinya pada awal tahun.

Selain itu, pihaknya juga khawatir mengenai amandemen UU Bank Indonesia yang dapat mengganggu independensi bank sentral.

“Kami sangat menghormati BI. Amandemen terhadap UU BI menimbulkan pertanyaan terkait independensi bank sentral dan itu akan buruk bagi Indonesia. Investor asing akan memperhatikan hal itu,” kata Grant seperti dikutip dari Bloomberg.

Di sisi lain, Head of Emerging Markets Fixed Income BNP Paribas Asset Management Jean-Charles Sambor menilai fundamental di Indonesia terbilang masih kuat dan pelaku pasar terlalu berlebihan dalam menilai kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Sambor justru mengingatkan bahwa inflasi tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Menurut saya, kelebihan pasokan [dalam lelang] sudah diperkirakan oleh investor. Risikonya adalah strategi keluar di masa depan nanti [ketika terjadi inflasi],” ujar Sambor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper