Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Loyo Setelah Dua Sesi Perkasa, Ini Penyebabnya

Emiten berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps menempati daftar tiga teratas top laggards IHSG dengan koreksi adalah BBCA 2,64 persen, BBRI 3,20 persen, dan TLKM 2,42 persen.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 15 September 2020  |  12:14 WIB
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com,JAKARTA— Indeks harga saham gabungan tertekan aksi profit taking oleh para investor setelah pada dua sesi sebelumnya menguat signifikan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 1,26 persen atau 65,14 poin ke level 5.096,69 pada akhir sesi pertama Selasa (15/9/2020). Laju indeks harus tersungkur setelah mampu rebound dalam dua perdagangan sebelumnya.

Sepanjang sesi pertama, tercatat sebanyak 102 saham menguat, 296 terkoreksi, dan 309 stagnan. Total nilai transaksi saham senilai Rp4,34 triliun di seluruh papan perdagangan dengan net sell investor asing Rp494,80 miliar.

Emiten berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps menempati daftar tiga teratas top laggards IHSG dengan koreksi adalah BBCA 2,64 persen, BBRI 3,20 persen, dan TLKM 2,42 persen.

Sebaliknya, tiga saham penahan koreksi indeks atau top leaders yakni POLL 14,11 persen, TPIA 1,45 persen, dan UNTR 1,63 persen.

Investor asing melepas saham BBCA dengan net sell Rp221,1 miliar. TLKM juga menjadi sasaran aksi jual asing dengan net sell Rp36,8 miliar.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan kinerja surplus neraca perdagangan per Agustus lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya. Sentimen itu menjadi penekan laju IHSG pada sesi pertama Selasa (15/9/2020).

“[Surplus neraca perdagangan lebih rendah] Sehingga menyebabkan terjadinya aksi profit taking,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (15/9/2020).

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan IHSG koreksi wajar karena dua hari perdagangan sebelumnya naik signifikan. Selain itu, ada pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diperkirakan akan kembali menghambat perekonomian secara riil akhir kuartal III/2020.

“Investor juga saya rasa tidak akan agresif bertransaksi di pasar modal karena wait and see menanti penetapan suku bunga 7DRR Bank Indonesia dan The Fed,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Neraca Perdagangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top