Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Insiden di Tambang, Produksi Emas dan Arus Kas MDKA Terdampak

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Tri Boewono mengatakan bahwa terjadi peristiwa tidak terduga pada salah satu proyek perseroan di tambang Tujuh Bukit Banyuwangi pada Sabtu (12/9/2020), yaitu ditemukannya keretakan pada heap leach pad.
Suasana area tambang Tumpang Pitu atau Tujuh Bukit di Pesanggaran Banyuwangi Jawa Timur pada Jumat (31/1/2020)./Bisnis-Peni Widarti
Suasana area tambang Tumpang Pitu atau Tujuh Bukit di Pesanggaran Banyuwangi Jawa Timur pada Jumat (31/1/2020)./Bisnis-Peni Widarti

Bisnis.com, JAKARTA - Volume produksi emas dan arus kas emiten pertambangan mineral, PT Merdeka Copper Gold Tbk., mendapat tantangan seiring dengan ditemukannya keretakan pada heap leach pad di tambang emas milik perseroan, Tujuh Bukit, Banyuwangi.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Tri Boewono mengatakan bahwa terjadi peristiwa tidak terduga pada salah satu proyek perseroan di tambang Tujuh Bukit Banyuwangi pada Sabtu (12/9/2020), yaitu ditemukannya keretakan pada heap leach pad.

Dia menjelaskan bahwa keretakan itu membuat sebagian dari bijih emas yang ditumpuk pada bagian depan mengalami penurunan muka sehingga pergerakan material tersebut menyebabkan kerusakan terhadap pipa dan pompa heap leach operation.

Untuk diketahui, pada tambang emas Tujuh Bukit, emiten berkode saham MDKA itu menggunakan teknologi heap leach dalam proses produksinya.

Dalam sistem tersebut, batuan yang mengandung mineral ditumpuk di suatu tempat khusus yang dibangun dengan alat plastik HDPE yang menyerupai sebuah wadah yang dibangun antara lain dengan lapisan tanah liat serta dipasangi alat monitor untuk menjaga dan memastikan agar cairan tersebut tidak mencemari lingkungan.

Sistem penambangan berteknologi heap leach menggunakan sianida untuk melarutkan mineral tambang, dan setelah dicampur dengan air, sianida ini ditempatkan di areal khusus dan akan digunakan secara terus menerus dengan sistem pengawasan secara ketat.

Adapun, setelah peristiwa tersebut karyawan dan peralatan tambang sekitar heap leach pad telah dievakuasi sebagai tindakan pencegahan. Selain itu, pekerjaan irigasi di area heap leach pad pun langsung dihentikan sementara dan perseroan tengah menyusun rencana perbaikan.

“Dampak yang baru bisa diinformasikan saat ini adalah, tidak ada kehilangan emas, namun tentunya selama proses perbaikan berjalan berdampak pada produksi dan arus kas dari tambang tujuh bukit terkait, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya,” ujar Tri saat public expose, Selasa (15/9/2020).

Tri menegaskan bahwa tidak ada produksi emas yang hilang tetapi hanya tertunda hingga proses perbaikan selesai. Dia juga menjelaskan bahwa peristiwa itu tidak berdampak pada rencana pengeboran dan studi proyek tembaga di Tambang Tujuh Bukit.

Selain itu, tidak ada korban jiwa dan luka pada insiden tersebut.

Saat ini MDKA tengah berencana untuk bekerja sama dengan ahli desain heap leach untuk menganalisis penyebab dan untuk mencegah peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.

Padahal, sebelum peristiwa ini terjadi MDKA berencana untuk menaikkan panduan produksi menjadi sebesar 175.000 hingga 195.000 ounces pada tahun ini dari panduan sebelumnya sebesar 165.000 hingga 185.000 ounces.

Hal itu dilakukan seiring dengan kenaikan harga emas global pada tahun ini hingga menyentuh level tertinggi di atas US$2.000 per troy ounces. Namun, kini pemanfaatan momentum itu terancam gagal.

Hingga saat ini, perseroan masih menunggu kajian lebih lanjut untuk dapat mengetahui volume produksi yang tertunda dan total arus kas yang terpengaruh.

“Perseroan akan melakukan pengumuman lebih lanjut, terkait dampak produksi dan arus kas. Informasi lain, kami punya polis asuransi yang cukup komprehensif, termasuk material damage dan business interruption,” ujar Tri.

Adapun, total kas dan setara kas perseroan per Juni 2020 berada di posisi US$55,56 juta. Sementara itu, total aset lancar perseroan hingga semester I/2020 berada di posisi US$201,12 juta.

Sepanjang semester I/2020, MDKA telah memproduksi emas sebanyak 108.823 ounce, dengan biaya pendukung atau all-in sustaining cost (AISC) sebesar US$648 per ounces dan biaya produksi sebesar US$408 per ounces.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper