Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tidak Jadi Diakuisisi, Tiffany & Co. Gugat LVMH

Konglomerat barang mewah asal Prancis yang terkenal dengan brand fesyen Louis Vuitton dan Givenchy, LVMH, batal membeli perusahaan perhiasan AS Tiffany & Co.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 09 September 2020  |  22:04 WIB
Logo Tiffany & Co. di salah satu toko retailnya / JIBI
Logo Tiffany & Co. di salah satu toko retailnya / JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Konglomerat barang mewah asal Prancis yang terkenal dengan merek fesyen Louis Vuitton dan Givenchy, LVMH, batal membeli perusahaan perhiasan AS Tiffany & Co.

Bloomberg melaporkan bahwa Tiffany & Co. pun akan menggugat LVMH karena membatalkan kesepakatan bernilai US$16 miliar tersebut.

LVMH beralasan pembatalan itu terpaksa dilakukan karena sengketa dagang antara AS dan Perancis. Namun, Tiffany menduga LVMH tengah berusaha memanfaatkan momentum protes terhadap brutalitas polisi di AS dan pandemi Covid-19 untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Saham Tiffany&Co. anjlok sekitar 10 persen pada awal perdagangan di Bursa AS hari ini sementara saham LVMH turun 1 persen di Paris.

Gugatan Tiffany & Co. terhadap LVMH diajukan di Delaware, bahwa Tiffany menolak permintaan LVMH untuk menghindar dari kesepakatan akuisisi.

“[LVMH] melanggar perjanjian merger, atau transaksi ini dalam beberapa cara tidak konsisten dengan jiwa patriotis sebuah perusahaan Perancis,” tulis Tiffany, seperti dikuti Bloomberg, Rabu (9/9/2020).

LWMH menyampaikan bahwa pemerintah Perancis telah meminta perseroan untuk menunda pembelian Tiffany hingga 6 Januari 2021 karena AS akan mengenakan tarif untuk barang-barang dari Perancis.

“[Pembatalan] ini perintah pemerintah, kami tidak punya pilihan,” kata Direktur Keuangan LVMH Jean-Jacques Guiony.

Adapun AS mengumumkan tarif sebesar 25 persen untuk produk asal Perancis yang termasuk produk kecantikan, sabun, dan tas tangan pada Juli 2020. Tarif tersebut masih ditunda selama 180 hari sembari Perancis membatalkan permintaan pajak layanan digital dari perusahaan AS.

Di AS, Tiffany mengatakan permintaan pemerintah itu tidak memiliki dasar dalam hukum Perancis.

“LVMH harus membayar harga yang lebih tinggi di atas harga pasar untuk Tiffany sebelum pandemi. Tidak mengejutkan, upaya tersebut akhirnya tidak jadi,” kata Trader di Lombard Forte Securities Keith Temperton.

Adapun rencana LVMH membeli Tiffany sudah disepakati sejak November 2019. Namun, pandemi virus corona menjadi kendala karena menyebabkan toko di seluruh dunia tutup dan permintaan terhadap barang mewah berkurang.

Sebelumnya, Tiffany disebut sebagai jalan keluar bagi CEO LVMH Bernard Arnault untuk memperkuat pangsa pasar perseroan di AS. Keluar dari kesepakatan membeli Tiffany ini pun dinilai akan bisa menjadi kemunduran bagi Arnault yang membesarkan bisnisnya lewat sejumlah akuisisi, mulai dari merek fesyen Dior hingga minuman Dom Perignon Champagne.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen tiffany louis vuitton

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top