Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Asia Ditutup Variatif, Indeks Kospi Terkoreksi 1,17 persen  

Pergerakan pasar dunia menunjukkan tren positif seiring dengan pembukaan kembali kegiatan ekonomi dan komitmen bank sentral untuk terus memberikan kucuran stimulus fiskal. 
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  14:27 WIB
Bursa Saham Korea Selatan. -  Seong Joon Cho / Bloomberg
Bursa Saham Korea Selatan. - Seong Joon Cho / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar saham Asia ditutup dengan hasil bervariasi di tengah kenaikan pasar Amerika Serikat yang kembali mencatatkan rekor kenaikan tertinggi harian.

Dilansir dari Bloomberg, indeks Topix Jepang ditutup pada posisi 1.618,18 atau naik 0,83 persen. Kenaikan ini ditopang oleh pembelian saham pada lima perusahaan investasi Jepang oleh perusahaan milik Warren Buffett, Berkshire Hathaway Inc.

Indeks Shanghai Composite China terpantau menguat tipis 0,09 persen di level 3.406,94 sementara indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,13 persen ke level 25.454,08

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup di zona merah setelah melemah 0,22 persen dan parkir di level 6.060,50. Sementara koreksi terdalam terjadi pada indeks Kospi Korea Selatan yang terjerembab 1,17 persen di 2.326,17. 

Pergerakan pasar dunia menunjukkan tren positif seiring dengan pembukaan kembali kegiatan ekonomi dan komitmen bank sentral untuk terus memberikan kucuran stimulus fiskal. 

Di sisi lain, lonjakan kasus positif virus corona masih terus terjadi, seperti di Amerika Serikat. Sementara India melaporkan lonjakan kasus harian terbesar seiring dengan angka kasus positif mencapai 25 juta orang di seluruh dunia.

"Meskipun lambat, pemulihan ekonomi terus terjadi dengan momentum kenaikan di AS pada bulan Juli dan di Eropa pada bulan Agustus. Tren ini juga didukung oleh kebijakan bank sentral dunia yang akan akomodatif terhadap perekonomian yang akan menopang aset-aset berisiko," jelas Esty Dwek, Head of Global Market Strategy di Natixis Investment Managers Solution

Sementara itu, tensi antara China dengan Amerika Serikat kian memanas. Pemilik aplikasi TikTok, ByteDance Ltd.kini diharuskan memiliki izin dari pemerintah China untuk menjual operasinya di Negeri Paman Sam. Hal tersebut menyusul adanya pembatasan baru yang dilakukan China terkait ekspor teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top