Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gara-Gara Pandemi, AirAsia Catat Rugi Bersih US$238 Juta di Kuartal II/2020

Penjualan yang turun 96 persen menjadi hanya 119 juta ringgit di kuartal ini menjadi penyebab utama maskapai berbiaya rendah terbesar kedua di Asia Tenggara ini mengalami kerugian.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  20:49 WIB
AirAsia - Bloomberg
AirAsia - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – AirAsia Group Bhd. Mencatat kerugian kuartalan terbesar dalam sejarah perusahaan menyusul pembatasan perjalanan untuk menahan penyebaran virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, AirAsia mencatat kerugian bersih 992,9 juta ringgit (US$238 juta) pada kuartal II/2020. Angka ini berbanding terbalik dari laba 17,3 juta ringgit dalam periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan yang turun 96 persen menjadi hanya 119 juta ringgit di kuartal ini menjadi penyebab utama maskapai berbiaya rendah terbesar kedua di Asia Tenggara ini mengalami kerugian.

Chief Executive Officer AirAsia Tony Fernandes telah melakukan pembicaraan untuk usaha patungan dan kolaborasi yang dapat menghasilkan investasi tambahan. Pinjaman bank dan proposal peningkatan modal lainnya juga sedang dipertimbangkan.

“Selama lockdown, kami mengambil kesempatan untuk merestrukturisasi grup dan membangun fundamental untuk bisnis yang berkelanjutan dan layak untuk masa depan,” kata Fernandes dalam sebuah pernyataan, Selasa (25/8/2020), seperti dikutip Bloomberg.

“Meskipun kami memperkirakan kapasitas tidak akan kembali ke level sebelum Covid-19 dalam jangka pendek, kami memperkirakan permintaan akan terus meningkat secara bertahap sepanjang paruh kedua tahun 2020,” lanjutnya.

Maskapai penerbangan secara global mendaratkan ribuan pesawat karena negara-negara menutup perbatasan dan membatasi pergerakan orang. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mencatat industri penerbangan tidak akan pulih ke level sebelum pandemi hingga tahun 2024.

Namun, sejumlah tanda pemulihan muncul untuk penerbangan regional, dengan Singapura dan Malaysia setuju membuka akses penerbangan antara kedua negara. AirAsia yang berbasis di Malaysia sebelumnyamelanjutkan operasional penerbangan di pasar domestik pada akhir April setelah menangguhkannya selama satu bulan.

Auditor AirAsia Ernst & Young bulan lalu mengatakan bahwa kemampuan maskapai untuk melanjutkan kelangsungan bisnisnya telah berada dalam "keraguan besar" karena liabilitas lancarnya melebihi aset lancar pada akhir 2019, bahkan sebelum pandemi.

“Operasional perusahaan telah melihat perkembangan positif karena tren pemesanan kursi penumpang, frekuensi penerbangan, dan faktor muatan secara bertahap meningkat untuk memenuhi permintaan yang meningkat," kata AirAsia, Selasa.

Per 30 Juni, AirAsia memiliki kas atau setara kas sebesar 996,1 juta ringgit, turun dari 2,59 miliar ringgit tahun lalu. Sekitar 42 persen pendapatan maskapai di kuartal kedua berasal dari kargo dan logistik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

airasia maskapai penerbangan

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top