Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dear Investor, Pahami Dulu Prospektus Calon Emiten Sebelum Koleksi Saham

Bursa Efek Indonesia menyebut tidak jarang saham emiten debutan menyentuh level harga Rp50 sehingga tidak lagi bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Pemahaman terhadap prospek calon emiten dinilai sangat penting
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  10:42 WIB
Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna memberikan penjelasan terkait Progress Listing 2019 di Jakarta, Jumat (29/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna memberikan penjelasan terkait Progress Listing 2019 di Jakarta, Jumat (29/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau calon investor untuk memahami prospek setiap penawaran saham yang dilakukan calon emiten guna memitigasi risiko investasi. Ungkapan jangan membeli kucing dalam karung disebut juga berlaku dalam dunia investasi di pasar modal.

Direktur Penilai Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna mengatakan investor yang ingin membeli saham di pasar perdana lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) wajib mempelajari dan memahami dengan seksama prospektus yang diterbitkan calon emiten.

Menurut Nyoman, pemahaman yang komprehensif atas prospektus calon emiten dapat membantu investor dalam mendapatkan informasi lengkap terkait dengan model bisnis, prospek usaha, manajemen, strategi usaha, dan risiko dari calon perusahaan tercatat.

“[Sebelum membeli saham IPO] Bursa meminta agar publik dapat terlebih dahulu mempelajari dan memahami dengan seksama prospektus yang diterbitkan perusahaan,” kata Nyoman, Senin (10/8/2020).

Adapun, beberapa perusahaan tercatat baru di bursa belakangan ini rentan mengalami kenaikan dan penurunan harga secara berlebihan. Pasalnya, emiten yang baru melantai tersebut kebanyakan memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah sehingga rentan “dipermainkan” oleh segelintir pihak.

Tak jarang pula beberapa saham anyar tersebut menyentuh level harga Rp50, sehingga tidak lagi bisa diperdagangkan di pasar sekunder atau hanya dapat ditransaksikan di pasar negosiasi. Merespons hal tersebut, Nyoman menegaskan bahwa pihaknya selalu mengedepankan kualitas dari perusahaan sebelum menjadi perusahaan terbuka.

Sejumlah persyaratan yang berkaitan dengan fundamental dan lainnya ditetapkan oleh otoritas bursa untuk memberi kesempatan bagi seluruh perusahaan mendapatkan akses pendanaan dari pasar modal.

Adapun proses yang dilalui calon emiten untuk IPO tidaklah mudah dan sederhana. Calon perusahaan tercatat harus memberikan informasi dan laporan dari para profesi penunjang pasar modal terkait bisnis usahanya kepada otoritas.

Selanjutnya, bursa akan melakukan penelaahan terkait dengan pemenuhan persyaratan pencatatan saham calon emiten sesuai dengan ketentuan yang berlaku. “Serta [diperiksa pula] berbagai aspek lainnya antara lain sustainability dan potensi pertumbuhan dari calon perusahaan tercatat,” imbuh Nyoman.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 11 Agustus 2020, terdapat 35 perusahaan tercatat baru. Jumlah tersebut terdiri dari 1 perusahaan menghimpun dana IPO di atas Rp1 triliun, 20 perusahaan mengumpulkan dana pada di bawah Rp250 miliar tetapi di atas Rp50 triliun, serta 14 perusahaan menghimpun dana di bawah Rp50 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia ipo rekomendasi saham
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top