Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Moodys: Penerbitan Sukuk Global Berkurang 5 Persen Tahun Ini

Namun, penurunan itu akan terbatas karena negara-negara di Timur Tengah masih memiliki kebutuhan pendanaan yang tinggi di tengah harga minyak yang masih berada di level rendah.
Monitor menampilkan nama Moody's Corp./ Bloomberg - Michael Nagle
Monitor menampilkan nama Moody's Corp./ Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Moody’s Investor Service memperkirakan penerbitan surat utang syariah atau sukuk akan berkurang 5 persen pada tahun ini menjadi sekitar US$170 miliar. Hal itu disebabkan oleh turunya penerbitan sukuk dari negara-negara Timur Tengah dan Asia Tenggara akibat pandemi.

VP-Senior Credit Officer Moody’s Nitish Bhojnagarwala menjelaskan dalam laporan terbarunya bahwa penerbitan sukuk pada tahun ini akan terkoreksi untuk pertama kalinya sejak empat tahun terakhir.

“Kami memperkirakan penerbitan [sukuk] akan reli pada paruh kedua tahun ini menjadi US$90 miliar, dipimpin oleh negara-negara Teluk,” tulis Bhojnagarwala, seperti dikutip pada Jumat (7/8/2020).

Kendati demikian, penurunan itu akan terbatas karena negara-negara di Timur Tengah masih memiliki kebutuhan pendanaan yang tinggi di tengah harga minyak yang masih berada di level rendah.

Adapun, harga minyak yang belum bertenaga membuat defisit di negara-negara pengekspor minyak kian lebar.

Lebih lanjut, Bhojnagarwala mengatakan nilai total penerbitan sukuk pada 2020 tetap akan menjadi tertinggi kedua sepanjang sejarah di bawah pencapaian pada 2019 yang tumbuh sebesar 36 persen yoy.

Berdasarkan data Moody’s, total penerbitan sukuk pada paruh pertama tahun ini turun sebesar US$77 miliar atau 12 persen dari periode yang sama tahun lalu. Hal itu terjadi karena aktivitas ekonomi di Malaysia dan Indonesia tersendat akibat pandemi.

Adapun, penerbitan sukuk dari negara-negara di Asia Tenggara turun 25 persen pada semester I/2020 secara tahunan sementara penerbitan di Timur Tengah masih tumbuh 7 persen.

“Volume penerbitan tampak akan rebound pada paruh kedua karena pemerintah membutuhkan dana untuk merespons krisis virus Corona,” imbuh Bhojnagarwala.

Selanjutnya, penerbitan sukuk hijau juga diperkirakan meningkat di Malaysia dan Indonesia seiring dengan upaya kedua negara menarik dana untuk membiayai proyek infrastruktur rendah karbon.

Per Juni 2020, penerbitan suku hijau berkontribusi terhadap sekitar 3 persen dari total penerbitan sukuk global. Penerbitan paling baru berasal dari Pemerintah Indonesia senilai US$750 juta untuk mendanai proyek berkelanjutan.

Saat ini, Indonesia memiliki 3 sukuk yang terdaftar di Nasdaq Dubai yang termasuk di dalamnya sukuk hijau pertama di dunia yang listing pada Maret 2018 senilai US$1,25 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper