Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

​Imbal Hasil Obligasi Indonesia Runner-Up di Asia, Kenapa Belum Dilirik?

Imbal hasil obligasi Indonesia tergolong tinggi dan menempati urutan kedua setelah Pakistan. Namun, investor asing disebut belum melirik obligasi merah putih karena masih menunggu kebijakan moneter dan fiskal lanjutan.
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com,JAKARTA — Imbal hasil atau yield obligasi Indonesia menduduki peringkat kedua tertinggi setelah Pakistan di wilayah Asia Pasifik.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan bahwa  yield obligasi Indonesia di wilayah Asia merupakan salah satu obligasi yang menarik. Imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun Indonesia menempati urutan kedua tertinggi setelah Pakistan. Sayangnya, lanjut dia, obligasi Indonesia belum kunjung menarik minat investor asing. Kondisi itu menurutnya disebabkan oleh sejumlah faktor.

“Bauran kebijakan moneter dan fiskal masih belum maksimal dan investor asing masih melihat perkembangan terkait dengan hal tersebut ke depannya,” jelasnya melalui riset harian, Kamis (6/8/2020).

Nico menuturkan fondasi ekonomi masih dalam keadaan rapuh di tengah situasi dan kondisi perekonomian yang belum maksimal. Penurunan inflasi akan mendorong probabilitas pemangkasan tingkat suku bunga lanjutan.

“Tentu kami berharap bahwa dengan adanya pemangkasan tingkat suku bunga dapat mendorong harga obligasi untuk mengalami kenaikkan lebih tinggi,” ujarnya.

Dia memprediksi pasar obligasi masih akan bergerak menguat dengan rentang terbatas. Pihaknya merekomendasikan investor wait and see karena pasar tidak stabil.

Berdasarkan data Bloomberg, imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun Indonesia parkir di level 6,79 persen pada Rabu (5/782020) pukul 14:42 WIB. Posisi itu turun dari 6,813 persen pada akhir sesi Selasa (4/8/2020).

Sementara itu, yield SUN tenor 5 tahun Indonesia mengalami penurunan dari 5,943 persen menjadi 5,898 persen. Selanjutnya, yield SUN tenor 15 tahun Indonesia juga turun dari 7,251 persen menjadi 7,237 persen. Adapun, yield SUN tenor 20 tahun Indonesia tidak berubah dari posisi sebelumnya di level 7,380 persen.

Sebagai catatan, pergerakan harga obligasi dan yield obligasi saling bertolak belakang. Kenaikan harga obligasi akan membuat posisi yield mengalami penurunan sementara penurunan akan menekan tingkat imbal hasil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper