Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kasus Covid-19 di Dunia Tembus 10 Juta, Rupiah Ikut Tergelincir

Jumlah kasus Covid-19 yang telah menembus 10 juta dan angka kematian menembus 500 ribu jiwa membuat pelaku pasar menghindar aset berisiko, termasuk rupiah.
Karyawati menghitung uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah gagal mengikuti tren penguatan sejumlah mata uang Asia lainnya pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (29/6/2020). Rupiah melemah akibat meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar atas penyebaran virus corona sehingga menghindar aset-aset berisiko seperti rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah melemah 0,18 persen atau 25 poin ke level Rp14.245 per dolar AS. Selain rupiah, Yen Jepang dan dolar Hongkong juga menjadi mata uang asia lain yang melemah terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Samurai melemah 0,47 persen terhadap dolar AS ke level 107,18 Yen per dolar AS. Sementara itu, dolar Hong Kong melemah tipis ke level 7,75 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang lain, seperti dolar Singapura dan Won Korea tercatat menguat masing-masing 0,09 persen dan 0,16 persen. Hal yang sama juga terjadi pada Yuan China yang menguat 0,03 persen terhadap dolar AS.

Mata uang negara Asia Tenggara seperti Baht Thailand dan Peso Filipina juga menguat. Masing-masing mata uang negara tetangga itu menguat 0,1 persen dan 0,13 persen terhadap dolar AS.

Pelemahan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia terjadi seiring meningkatnya yield surat utang tenor 10 tahun yang meningkat 1 basis poin ke level 0,65 persen, mendekati rekor terendahnya.

Beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan mata uang dan pasar finansial global pada hari ini di antaranya disebabkan oleh kekhawatiran investor seiring dengan meningkatnya angka kematian global akibat virus corona yang mencapai 500.000 orang di seluruh dunia.

David Hunt, Presiden PGIM Inc. menyatakan bahwa hal itu mendasari kekhawatiran investor terkait pemulihan ekonomi dunia. Diperkirakan pemulihan tersebut tidak akan berlangsung cepat, seperti yang diperkirakan pasar sebelumnya.

“Pemulihan ekonomi diperkirakan akan jauh lebih lambat dan jauh lebih tidak berimbang. Pasar mengharapkan pemulihan cepat dalam bentuk kurva ‘V’, tapi kami pikir hal ini tidak akan terjadi,” jelasnya, dikutip dari Bloomberg, Senin (29/6/2020).

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menyatakan bahwa pelemahan rupiah pada hari ini juga didorong oleh peningkatan kasus Covid-19 di seluruh dunia. Hal ini menjadi sentimen negatif terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.

“Penyebaran yang meningkat ini bisa membuat pemulihan ekonomi kembali terhambat. Di internal Indonesia, kasus Covid-19 juga masih meningkat dengan laju yang sama,” katanya kepada Bisnis, Senin (29/6/2020).

Dia menyatakan bahwa apabila kekhawatiran ini masih berlanjut maka pelemahan rupiah akan kembali terjadi pada perdagangan besok. Dia memperkirakan rupiah akan diperdagangkan pada rentang Rp14.150 per dolar AS—Rp14.300 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper