Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor-Sektor Saham Ini Jadi Pilihan Manajer Investasi

Sinarmas AM masih berfokus pada sektor-sektor yang tidak terlalu terdampak oleh pandemi Covid-19, seperti sektor barang konsumsi dan sektor perbankan.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 18 Juni 2020  |  19:46 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah sektor saham jadi pilihan manajer investasi di tengah momentum pemulihan pasar yang masih diwarnai volatilitas.

Direktur Sinarmas Aset Manajemen Jamial Salim mengatakan kondisi pasar saat ini masih perlu diwaspadai dengan memperhatikan angka kasus Covid di era kenormalan baru, apakah cukup terkendali atau malah meningkat.

Selain itu, tambahnya, faktor-faktor eksternal seperti ketegangan Amerika Serikat dengan China juga perlu menjadi perhatian karena akan menjadi pemicu volatilitas pasar.

Terkait dengan hal tersebut, Jamial menyebut Sinarmas AM masih berfokus pada sektor-sektor yang tidak terlalu terdampak oleh pandemi Covid-19, seperti sektor barang konsumsi dan sektor perbankan.

“Dengan pembukaan bisnis dan pengakhiran PSBB maka sektor consumer akan pulih kembali secara perlahan dan adanya penurunan 7-Days Repo rate, sektor perbankan juga lebih baik,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (18/6/2020).

Adapun hingga akhir tahun ini Sinarmas AM mematok target indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 5.250.

Pada kesempatan terpisah, Investment Director Schroders Indonesia Irwanti menilai saat ini pasar sudah melewati titik terbawah dan faktor-faktor ketakutan pasar mulai memudar. Di saat yang bersamaan rupiah juga menguat dan inflow asing mulai kembali deras terutama di pasar obligasi.

Meskipun demikian, dia menilai dalam jangka pendek volatilitas masih akan tetap ada seiring sejumlah sentimen yang membayangi seperti risiko terjadinya gelombang kedua, memanasnya tensi Amerika Serikat-China, dan pemilu AS yang dilakukan tahun ini.

Namun, dia melihat pasar sekarang ini sudah tak terlalu bereaksi dengan penambahan kasus baru Covid-19 dan lebih digerakkan oleh sentimen terkait pembukaan kembali ekonomi dan perkembangan pembuatan vaksin.

“Tiap ada kabar baru soal pembukaan ekonomi atau soal vaksin, pasar mengapresiasi. Sebaliknya, saat ada penambahan kasus pasar bergeming,” imbuhnya.

Irwanti menyebut salah satu strategi adalah berinvestasi di beberapa sektor yang cenderung kebal dari dampak pandemi antara lain sektor barang konsumsi, sektor kesehatan, dan sektor telekomunikasi.

Selain itu, tren pasar modal dalam jangka panjang pun patut dicermati. Dia mencontohkan bagaimana emiten-emiten minyak yang satu dekade lalu menjadi raja di bursa AS kini tergusur oleh perushaan-perusahaan teknologi.

“Jadi memang harus open minded, harus paham tren pasar modal jangka panjang,” kata Irwanti.

Adapun Irwanti tidak menyebutkan berapa target IHSG yang dipatok oleh Schroders hingga akhir 2020 nanti. Dia hanaya mengatakan proyeksi IHSG mereka akan mengacu pada proyeksi earning per share (EPS).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajer investasi rekomendasi saham reksa dana
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top