Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Batu Bara Diprediksi Mentok di Level US$60 

Pasar batu bara jauh lebih stabil dibandingkan dengan komoditas energi lainnya seperti gas dan minyak mentah. Pasalnya permintaan masih stabil dan penutupan beberapa tambang mendukung harga batu bara.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 08 Juni 2020  |  15:54 WIB
Aktivitas kontrak pertambangan PT Petrosea Tbk. Anak usaha Indika Energy ini memiliki pengalaman 48 tahun di bidang kontraktor pertambangan. - petrosea.com
Aktivitas kontrak pertambangan PT Petrosea Tbk. Anak usaha Indika Energy ini memiliki pengalaman 48 tahun di bidang kontraktor pertambangan. - petrosea.com

Bisnis.com, JAKARTA — Harga rata-rata batu bara diperkirakan hanya mencapai US$50 sampai US$60 per ton hingga akhir 2020 mendatang.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan harga batu bara tahun ini secara konsolidasian akan bergerak di level US$50 sampai US$60 per ton. Sementara itu untuk jangka pendek level maksimal mencapai titik US$70 per ton. 

Adapun pada sepanjang pekan ini harga batu bara diestimasi bergerak di rentang US$52 sampai dengan US$60 per ton. Hari ini, Senin (8/6/2020) bara diperdagangkan di level US$56,20 per ton. 

"Seperti komoditas umum lainnya terutama energi seperti minyak dan batu bara akan rebound didorong harapan kembali dibukanya ekonomi post lockdown di banyak negara. Hal ini membuat permintaan dapat menguat kembali," katanya kepada Bisnis pada Senin (8/6/2020).

Wahyu menambahkan pasar batu bara jauh lebih stabil dibandingkan dengan komoditas energi lainnya seperti gas dan minyak mentah. Pasalnya permintaan masih stabil dan penutupan beberapa tambang mendukung harga batu bara.

Selain itu, alasan utama ekspor batu bara dapat bertahan hingga saat ini karena negara importir utama telah berhasil mengatasi wabah virus corona (Covid-19) dengan baik. Misalnya saja China, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan yang telah menurunkan tingkat infeksi baru mereka atau menahan penyebaran covid-19.

"Konsumsi batu bara China telah kembali ke sekitar 94 persen menyerupai tahun lalu walaupun harga masih lemah. Jadi batu bara akan lebih mudah bertahan dan berpotensi menguat," katanya.

Selain itu, Wahyu mengatakan China akan menjaga supaya harga batu bara tidak terlalu tinggi atau rendah. Pasalnya bila terlalu tinggi bakal mengancam konsumen listrik.

Namun, bila terlalu rendah akan membuat produsen batu bara domestik bakal tertekan. Menurutnya beragam cara bisa dilakukan seperti memangkas produksi batu bara atau jam kerja.

"China juga dapat memanfaatkan rendahnya harga saat ini untuk menimbun hingga rebound nantinya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara harga batu bara
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top