Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gara-gara Covid-19, Prospek Angkasa Pura I Direvisi Jadi Negatif

Perubahan outlook terjadi karena target lalu lintas penumpang, pesawat, dan kargo pada 2019 tidak tercapai. Akibatnya, target pendapatan perseroan periode 2019 juga tidak terpenuhi.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 Mei 2020  |  09:10 WIB
PT Angkasa Pura I menghabiskan dana sebesar Rp10,5 triliun untuk pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang berada di Kulon Progo, Yogyakarta. - Bisnis/Rinaldi M. Azka
PT Angkasa Pura I menghabiskan dana sebesar Rp10,5 triliun untuk pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang berada di Kulon Progo, Yogyakarta. - Bisnis/Rinaldi M. Azka

Bisnis.com,JAKARTA— Prospek atau outlook PT Angkasa Pura I (Persero) direvisi oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) akibat tidak tercapainya target pendapatan pada 2019.

Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Angkasa Pura I melaporkan hasil pemeringkatan terbaru. Pefindo menetapkan kembali peringkat idAAA atau Triple A untuk perusahaan namun merubah outlook perseroan dari stabil menjadi negatif.

Manajemen Angkasa Pura I menjelaskan bahwa perubahan outlook karena tidak tercapainya target lalu lintas penumpang, pesawat, dan kargo pada 2019. Akibatnya, target pendapatan perseroan periode 2019 tidak tercapai.

Angkasa Pura I menyebut tidak tercapainya target tahun lalu disebabkan oleh beberapa faktor eksternal. Salah satunya kebijakan maskapai menaikkan harga tiket domestik dan mengurangi frekuensi penerbangan.

Selain itu, kebijakan penghapusan allowance baggage di beberapa maskapai juga menjadi penyebab tidak tercapainya target perseroan tahun lalu. Penyebab lainnya menurut perseroan yakni tertundanya rencana pengambilalihan empat bandara milik Kementerian Perhubungan dan pengoperasian tujuh ruas tol Trans Jawa.

Sementara itu, Angkasa Pura I menyebut penyebaran pandemi Covid-19 membuat diterapkannya sejumlah aturan pembatasan yang berdampak terhadap kinerja operasional. Kondisi itu mengakibatkan penurunan lalu lintas penumpang dan pesawat yang cukup signifikan.

Secara terpisah, Analis Pefindo Emanuel Paco Tan dan Martin Pandiangan mengatakan revisi outlook Angkasa Pura I untuk mengantisipasi pendapatan yang menurun dalam jangka waktu dekat. Hal itu sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

“Pandemi Covid-19 yang sangat mempengaruhi kemauan konsumen untuk berpergian dan adanya penerapan Peraturan Menteri Perhubungan No 25/2020 yang secara sementara membatasi perjalanan penumpang, termasuk perjalanan dengan transportasi udara dari 24 April 2020 sampai 1 Juni 2020,” ujar Tim Analis Pefindo melalui siaran pers yang dikutip, Kamis (20/5/2020).

Pefindo menyebut penerapan karantina wilayah di sebagian besar negara pada akhir kuartal I/2020 akan berdampak terhadap industri bandara. Oleh karena itu, pandemi akan berdampak negatif terhadap arus kas dari kegiatan operasi perusahaan dalam jangka waktu dekat karena pendapatan yang lebih rendah dan porsi biaya operasional tetap yang signifikan.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia, Angkasa Pura I sedikitnya memiliki utang delapan obligasi yang akan jatum tempo mulai 2021 hingga 2026. Total emisi obligasi itu mencapai Rp5,25 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

angkasa pura i
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top