Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ringkasan Perdagangan 13 Mei: IHSG Melemah Lagi, Rupiah Berhasil Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya untuk hari kedua, sedangkan nilai tukar rupiah berhasil bangkit dan menguat terhadap dolar Amerika Serikat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  20:13 WIB
Pekerja berswafoto dengan latar belakang pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Pekerja berswafoto dengan latar belakang pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya untuk hari kedua di tengah kekhawatiran pelaku pasar terkait pelonggaran aturan pembatasan sosial berskala besar, PSBB.

Kendati demikian, nilai tukar rupiah berhasil bangkit dan menguat terhadap dolar Amerika Serikat seiring dengan potensi penurunan dolar AS.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Rabu (13/5/2020):

IHSG Berakhir Melemah 0,75 Persen, Sektor Industri Dasar Turun 2 Persen Lebih

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,75 persen atau 34,37 poin ke level 4.554,36. Sepanjang perdagangan hari ini, indeks bergerak dalam kisaran 4.519,98 - 4.586,62.

Sebanyak 7 dari 10 sektor pada IHSG berakhir di wilayah negatif, dipimpin industri dasar (-2,76 persen) dan aneka industri (-1,52 persen). Adapun tiga sektor lainnya mampu menguat, dipimpin barang konsumsi (+0,48 persen).

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang masing-masing turun 2,1 persen dan 6,7 persen menjadi penekan utamanya.

Bos BEI: Meski Ada Pandemi, Investor Saham Terus Bertumbuh

Bursa Efek Indonesia mencatat adanya pertumbuhan jumlah investor saham sebesar 7 persen hingga 8 Mei 2020.

Berdasarkan data BEI, jumlah investor saham tercatat tumbuh sebesar 7 persen menjadi 1,17 juta investor per 8 Mei 2020 secara year-to-date. Adapun pada akhir tahun lalu tercatat jumlah investor saham sebesar 1,10 juta.

“Dari sisi total investor, baik saham, reksa dana, dan surat utang itu masih terlihat pertumbuhan yang cukup bagus sebesar 11 persen,” jelas Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dalam Seminar Online bersama Danareksa Sekuritas.

Kurs Rupiah Ditutup Menguat

Nilai tukar rupiah berhasil rebound dan ditutup di level Rp14.865 per dolar AS dengan apresiasi sebesar 40 poin atau 0,27 persen dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (12/5/2020), rupiah berakhir di level Rp14.905 per dolar AS dengan pelemahan 10 poin atau 0,07 persen.

Setelah Amblas 17 Persen, Kuartal II Rupiah Berbalik Menguat Terhadap Dolar AS

Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksi cenderung menguat dan lebih stabil pada kuartal II/2020 dibandingkan dengan kuartal I/2020. Hal itu dinilai akan membantu emiten yang terhantam risiko selisih kurs untuk memperbaiki kinerja di tengah pandemi virus Corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang kuartal II/2020 berjalan rupiah telah berhasil terapresiasi 4,86 persen dan parkir di level Rp14.905 pada perdagangan Selasa (12/5/2020). Hal itu pun berbanding terbalik dengan kinerja rupiah pada kuartal I/2020 yang justru terdepresiasi sekitar 17 persen.

Bahkan, rupiah pun sempat menyentuh level terendahnya dalam 20 tahun terakhir di kisaran Rp16.430 per dolar AS pada awal Maret 2020. Adapun, kinerja rupiah pada kuartal I/2020 itu menjadi kinerja nilai tukar terburuk di antara mata uang Asia lainnya.

Pasar di China Mulai Aktif, Harga Batu Bara Kembali Membara

Harga batu bara berhasil mencetak reli dan sudah bergerak menguat selama tujuh perdagangan berturut-turut. Hal ini  didukung oleh sentimen optimisme pasar terhadap pulihnya pasar China sebagai produsen dan konsumen terbesar di dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Juni 2020 parkir di level US$54,15 per ton, menguat 1,5 persen pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2020). 

Adapun, pada akhir April 2020 harga batu bara sempat menyentuh level US$50,9 per ton yang merupakan level terendahnya sejak Mei 2016 atau hampir empat tahun lalu.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Juni 2020 terpantau naik 8,30 poin atau 0,49 persen ke level US$1.715,10 per troy ounce pukul 19.20 WIB.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan harga emas berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek karena sentimen pelemahan dolar AS di balik outlook pelonggaran moneter oleh Federal Reserve AS.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta bertambah Rp5.000 menjadi Rp908.000 per gram.

Adapun harga pembelian kembali atau buyback emas naik Rp6.000 ke posisi Rp812.000 per gram dari harga sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah Harga Emas Hari Ini
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top