Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Terancam Bangkrut, Tiga Indeks Wall Street Turun Tajam

Tiga indeks saham utama di Bursa Wall Street Amerika Serikat kompak anjlok setelah seorang pejabat kesehatan AS menyampaikan peringatan soal dampak dibukanya kembali aktivitas perekonomian dalam waktu yang terlalu cepat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  05:36 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Tiga indeks saham utama di Bursa Wall Street Amerika Serikat kompak anjlok setelah seorang pejabat kesehatan AS menyampaikan peringatan soal dampak dibukanya kembali aktivitas perekonomian dalam waktu yang terlalu cepat.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup anjlok 2,05 persen atau 60,20 poin ke level 2.870,12 pada perdagangan Selasa (12/5/2020).

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite tersungkur 2,06 persen atau 189,79 poin ke posisi 9,002,55 dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun tajam 1,89 persen atau 457,21 poin ke level 23.764,78.

Pada Selasa, pakar penyakit menular AS, Anthony Fauci, memperingatkan bahwa negara-negara bagian yang terlalu cepat membuka kembali aktivitas perekonomiannya dapat mendorong kembali perjuangan untuk memulihkan ekonomi.

Di sisi lain, beberapa pejabat bank sentral Federal Reserve AS mengatakan wabah penyakit virus corona (Covid-19) dan penutupan parsial akan berisiko kebangkrutan besar-besaran yang dapat menciptakan bekas luka abadi.

“Kalian akan melihat kegagalan bisnis dalam skala besar dan akan mengambil risiko yang akan membawa ke kondisi depresi jika shutdown berlanjut,” ujar Presiden Federal Reserve Bank St. Louis James Bullard dalam sebuah pidato melalui video dari kota itu.

Selain itu, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari memperingatkan tentang pemulihan yang bertahap dan tidak aktif dari wabah ini.

Setali tiga uang, Presiden Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan ekonomi akan membutuhkan lebih banyak stimulus fiskal jika tingkat pengangguran terus meningkat.

Adapun menurut anggota Dewan Gubernur The Fed Gubernur Randal Quarles pada Selasa (12/5), The Fed dapat membatasi kemampuan bank-bank Wall Street untuk membayar dividen dengan menaikkan jumlah modal yang mereka butuhkan untuk dipertahankan karena krisis virus corona.

Penutupan bisnis dan perintah tinggal di rumah (stay at home) telah menyebabkan 20,5 juta kehilangan pekerjaan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bulan April, meningkatkan tingkat pengangguran tiga kali lipat menjadi 14,7 persen, tertinggi sejak periode Great Depression tahun 1930-an.

Pada Selasa, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) inti, tidak termasuk biaya makanan dan bahan bakar, turun 0,4 persen pada April 2020 dari bulan sebelumnya.

Penurunan IHK inti pada April adalah penurunan terbesar dalam penghitungan data yang tercatat sejak tahun 1957. Tren penurunan harga yang berkelanjutan akan memacu kekhawatiran tentang deflasi, sehingga memperburuk kekhawatiran bahwa pemulihan dari penurunan ekonomi yang dalam akan sangat lambat.

Sejalan dengan Wall Street, indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,7 persen. Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1 persen, sedangkan indeks Stoxx Europe 600 mampu menanjak sekitar 0,3 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street bursa global
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top