Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Diprediksi Melandai, Begini Prospek Saham Japfa (JPFA)

Kresna Securities menurunkan proyeksi penjualan dan laba bersih JPFA karena variabel tidak terduga, Covid-19. Target harga saham JPFA juga diturunkan dari Rp1.970 menjadi Rp1.230 per saham.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  13:07 WIB
Kantor Japfa Comfeed - Ilustrasi/shareinv.com
Kantor Japfa Comfeed - Ilustrasi/shareinv.com

Bisnis.com,JAKARTA — PT Kresna Securities memangkas target harga saham emiten perunggasan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk., sesuai dengan proyeksi keuangan perusahaan.

Dalam riset yang dipublikasikan Senin (11/5/2020), Analis Kresna Securities Timothy Gracianov menyoroti dua langkah menarik yang akan dilakukan emiten berkode saham JFPA tersebut. 

Aksi korporasi tersebut yaitu rencana pembelian kembali atau buyback saham dengan anggaran Rp350 miliar dan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue.

JPFA berencana mengeluarkan saham baru  Seri A dalam jumlah sebanyak-banyaknya 30 persen dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Jumlah itu setara dengan sebanyak-banyaknya 3,51 miliar saham Seri A.

Timothy mengatakan perseroan berpeluang mendapatkan dana segar hingga Rp3,5 triliun apabila seluruh saham yang direncanakan dalam rights issue dieksekusi. Jumlah itu dengan asumsi harga pelaksanaan HMETD senilai Rp1.000.

“Jumlah itu [Rp3,5 triliun] mendekati satu tahun arus kas keluar untuk investasi senilai Rp3,2 triliun pada 2019,” ujarnya melalui riset yang dikutip, Senin (11/5/2020).

Dia menyebut ketersediaan uang tunai perusahaan hanya Rp937 miliar apabila melihat kinerja buku 2019. Padahal, posisi utang jangka pendek dan dan utang jangka panjang yang akan jatuh tempo senilai Rp3,1 triliun.

Arus kas operasi, lanjut dia, diperkirakan hanya akan mencakup Rp1,8 triliun pada 2020. Adapun, penjualan aset lancar menurutnya saat ini akan menghabiskan biaya dan menjadi opsi terakhir.

Timothy menyebut JPFA tidak menambah utang lagi lantaran terikat dengan perjanjian. Dalam laporan keuangan 2019, perseroan harus mempertahankan fixed charge coverage ratio tidak kurang dari 2,5 kali untuk 5,5 persen surat utang senior yang akan jatuh tempo pada 2022.

“JPFA membatasi untuk meminjam lebih banyak dan untuk mengantisipasi skenario terburuk yang dapat menekan batas operasi. Dengan kata lain, untuk melindungi debtholders lain,” paparnya.

Dari sisi industri, Timothy menyebut harga ayam pedaging atau broiler mulai merangkak naik. Memasuki Ramadan, harga naik menjadi rerata Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram.

Kresna Securities menurunkan proyeksi penjualan dan laba bersih JPFA karena variabel tidak terduga, Covid-19. Penyebaran pandemi akan mengarah kepada permintaan yang lebih rendah.

Estimasi penjualan JPFA diturunkan dari Rp41,1 triliun menjadi Rp37,4 triliun periode 2020. Adapun, perkiraan laba bersih juga diturunkan dari Rp1,9 triliun menjadi Rp1,7 triliun.

“Dengan menyesuaikan proyeksi keuangan, kami menurunkan target harga menjadi Rp1.230 [dari Rp1.970] dan mempertahankan peringkat beli untuk 2020,” jelas Timothy.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham JPFA menguat 1,09 persen ke level Rp930 hingga akhir sesi pertama, Senin (11/5/2020). Dalam satu bulan terakhir, laju perseroan menghasilkan return positif dengan menguat 1,64 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

japfa comfeed rekomendasi saham
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top