Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Minta Nego, Garuda Indonesia (GIAA) Surati Pemegang Sukuk

Garuda Indonesia telah menunjuk PJT Partners sebagai penasihat keuangan untuk membantu proses dialog sukuk. Surat utang Garuda Indonesia Global Sukuk senilai US$500 juta akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020.
  Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjadi narasumber diskusi bertema Semangat Baru Garuda di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1/2020)./Antara
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjadi narasumber diskusi bertema Semangat Baru Garuda di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/1/2020)./Antara

Bisnis.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) meminta negosiasi pembayaran dengan para pemegang surat utang sukuk global perseroan. Surat utang senilai US$500 juta itu akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020 tersebut.

Permintaan tersebut tercantum dalam surat perseroan kepada pemegang sukuk pada 29 April 2020. Perseroan meminta para pemegang sukuk untuk mengungkap nilai pokok kepemilikan masing-masing investor melalui agen identifikasi perusahaan.

Emiten bersandi saham GIAA itu telah menunjuk PJT Partners sebagai penasihat keuangan untuk membantu proses dialog tersebut. Perseroan akan membentuk komite diskusi bersama pemegang sukuk dan PJT Partners.

Lewat surat yang ditandatangani oleh Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal itu, perseroan menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan berat bagi industri penerbangan secara global. Perseroan menyatakan diskusi ini merupakan bentuk upaya pengelolaan likuiditas secara proaktif di tengah tantangan tersebut.

“Perusahaan mengambil langkah-langkah untuk memastikan kesejahteraan pekerja dan pelanggan sambil mengelola likuiditas secara proaktif dalam menghadapi ketidakpastian bagi industri penerbangan. Perusahaan terus menilai semua opsi, khususnya terkait dengan Sukuk,” tertulis dalam surat, dikutip pada Jumat (1/5/2020).

Dihubungi secara terpisah, Direktur Utama Garuda Indonesia membenarkan upaya diskusi dan negosiasi bersama para pemegang sukuk tersebut. Perseroan, lanjutnya, akan dibantu sepenuhnya oleh PJT Partners sebagai penasihat keuangan.

“Sudah ajukan konsultasi, PJT Partners yang akan bantu kami,” katanya kepada Bisnis, Jumat (1/5/2020).

Untuk diketahui, GIAA memang memiliki utang obligasi dari penerbitan Trust Certificates tidak dijamin sebesar US$500 juta. Surat utang yang diterbitkan dengan nama Garuda Indonesia Global Sukuk Limited itu akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020. Per 31 Desember 2019, saldo utang ini obligasi mencapai US$498,99 juta.

Mengutip laporan keuangan 2019, maskapai pelat merah ini memiliki total pinjaman senilai US$1,83 miliar, dan pinjaman bersih senilai US$1,53 miliar. Sementara itu, posisi ekuitas mencapai US$720,62 juta.

Dengan demikian, posisi debt to equity (DER) perseroan mencapai 2,55 kali, dan net debt to equity ratio perseroan mencapai 214 persen.

Garuda Indonesia tercatat memiliki liabilitas jangka pendek yang cukup besar per akhir 2019, totalnya mencapai US$3,25 miliar. Kewajiban jangka pendek itu mendominasi total liabilitas perseroan yang mencapai US$3,73 miliar.

Dari jumlah tersebut, sebanyak US$984,85 juta di antaranya merupakan pinjaman bank. Pinjaman ini terdiri dari pinjaman bank terafiliasi sebanyak US$540,09 juta dan US$444,75 juta kepada bank pihak ketiga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper